Archive for July, 2005

“Anak kecil itu datang lagi nih mak!”

Monday, July 18th, 2005

Jakarta, 16 Juli 2005

“Anak kecil itu datang lagi nih mak!”

Jum’at malam Jakarta diguyur hujan lebat, kemacetan pun terjadi dimana-mana, begitupula banjir. Hampir disetiap sudut kota, bahkan Sarinah pun kebanjiran. “Hampir sedengkul” kata Dessi yang baru saja menerima sms dari Renny. Lebatnya hujan juga masuk ke dalam kamar vie, retakan genting yang termakan usia tak mampu lagi mencegah tetesan air hujan masuk ke dalam kamar. Merembes masuk memenuhi ruangan, Vie pun baru tahu ketika pulang dari beskem Melati tadi malam, usai meeting evaluasi outing, 26 Juni 2005 yang lalu… kerja keras sebelum tidur pun terpaksa dilakukan, padahal lelah mulai bergayut mengajak Vie merebahkan tubuh yang lelah seharian.

Matahari Sabtu pagi, bersinar cerah sekali. Agenda Vie hari ini : Menjenguk nyak Mi’ah dan SDS Khairul Uswah, agenda kegiatan KKS Melati. Tampaknya tidak akan terlalu banyak yang ikutan menjenguk Nyak Mi’ah karena tak banyak respond di milist. Tak apalah, ada Ria yang sudah survey kesana, Dian, Rini dan Vie, ini sudah lebih dari cukup.

Jam 10 pagi Rini sudah tiba di beskem, masih sepi, cuma ada suara radio di dalam, Vie baru saja keluar membuang sampah dan mengembalikan barang ke rumah dari beskem. “Resiko kalau rumah deket beskem, semua barang rumah bisa berpindah ke beskem tanpa disadari”. Tak berapa lama, Dian datang, dia confirm untuk ikutan ke Nyak Mi’ah semalam. Ini pertama kalinya Dian ke beskem setelah yang pertama gagal karena harus menerima panggilan tugas dari ‘negara’.

Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, hampir jam 11 siang, ria belum juga datang, Vie menerima sms darinya “ Mbak, maaf aku telat ada perlu sbntr – mkn sktr jam 11-an-thx*anria* itu beberapa menit lalu dan kini hampir jam 12 siang, anria tidak bisa dihubungi, akhirnya Vie, Rini dan Dian memutuskan untuk pergi ke SDS Khairul Uswah dulu baru ke Nyak Mi’ah.

SDS KU

Akhirnya kami putuskan untuk pergi ke SDS KU di daerah Petamburan, Jakarta Barat. Kunjungan kami ke sekolah ini adalah agenda rutin KKS Melati, menyampaikan beasiswa untuk anak-anak yang bersekolah disana. Beasiswa untuk membantu biaya operasional sekolah selama dua bulan kedepan. Dari kantornya Ria akhirnya berhasil menyusul kami disana.

Sekolah Dasar Swasta Khairul Uswah (SDS KU) adalah sekolah yang didirikan untuk menampung anak-anak dari keluarga kurang mampu, yatim piatu dan anak-anak dari keluarga yang memiliki masalah sosial. Menyadari pentingnya pendidikan dasar bagi anak-anak, pak Dedi bersama masyarakat sekitar membuat sekolah ini sebagai sarana belajar mengajar buat anak-anak ini. Guru-guru yang mengajar hanya dibayar secukupnya karena dana yang tidak memadai, mereka lebih memprioritaskan pada kebutuhan anak-anak untuk bersekolah.

Beberapa waktu lalu, KKS Melati mengajak para relawan untuk membantu pengadaan beasiswa ke Khairul Uswah, dan telah tercatat beberapa donator yang membantu membiayai dalam jangka waktu tertentu. Dan secara rutin selama dua bulan sekali kami menyalurkan dana kesana. Masih banyak yang diperlukan sekolah ini, lokasi sekolah yang berada didalam gang kecil ditengah perkampungan sangat tidak layak disebut sebagai sekolah. “Saya bermimpi anak-anak berbaris melakukan upacara di lapangan sekolah” ujar pak Dedi saat kami berkunjung kesana. Saat ini pak Dedi masih berupaya untuk mencari lokasi strategis untuk memindahkan sekolahnya yang baru berusia 3 tahun ini ke tempat yang lebih layak. Memiliki semua prasarana yang dibutuhkan oleh sebuah sekolah. Sebuah cita-cita luhur dari seorang kepala sekolah yang berani mengadu kepintaran murid-murid di sekolahnya dengan murid-murid dari sekolah lain.

Usai mengunjungi SDS KU, perjalanan kami lanjutkan menuju rumah Nyak Mi’ah, namun sebelumnya kami sempat mampir ke Giant, Plaza Semanggi, membeli oleh-oleh untuk Nyak Mi’ah.

Nyak Mi’ah

Akhirnya kami pergi mengunjungi nyak Mi’ah setelah Ria pergi mengunjunginya beberapa waktu sebelumnya. Buah tangan untuk nyak Mi’ah telah kami bawa, seperti beras, minyak, roti, handuk, selimut dan lainnya. Nyak Mi’ah, kami mengenalnya dari sebuah postingan di milist KKS Melati beberapa waktu yang lalu. “Nyak Mi’ah terpaksa harus tetap bekerja membuat anyaman dari bamboo untuk menyambung hidup. Setiap hari, dalam kondisi sehat, ia hanya mampu mengerjakan sebuah anyaman yang di jual seharga Rp. 2.000,-“ – liputan6.com

Ria, begitu Vie memanggil Anria, tergerak untuk melakukan survey lebih dahulu, dia mencari tahu lokasi dimana nyak Mi’ah tinggal dan apa yang diperlukan. Relawan-relawan Melati lain sedang sibuk menyiapkan outing untuk anak Jalanan pada saat itu.

Bersama Nia, Ria melakukan survey mengunjungi nyak Mi’ah di daerah Cipinang Muara. Sore itu, dengan taksi kami melaju ke rumah Nyak Mi’ah, melewati daerah Kali Malang yang kebetulan tidak jauh dari rumah Manggi, kami pun mengajak Manggi ikut serta. Di Jl. Cipinang Bali II No. 38, RT 008/013, Cipinang Muara, Jakarta Timur, di dalam gang kecil, akhirnya kami tiba di rumah Nyak Mi’ah.

Seorang ibu berteriak, “Mak, anak kecil itu datang lagi nih mak!” dan Ria pun menyalami mereka satu per satu, memeluk mereka seakan mereka memang benar keluarganya. “Nih mak anak kecil yang nakal, yang kemaren ambil foto dan keliaran di kandang ayam situ mak!” kata ibu itu lagi. Nyak Mi’ah beberapa kali bertanya siapa yang datang… dan si anak kecil pun dibawa dihadapan Nyak Mi’ah “Ini mak ini si anak kecil pulang” Vie, Rini, dan Dian cuma tersenyum, Ria si”anak kecil” cuma tersenyum dan menjabat tangan Nyak Mi’ah dengan erat. “Apa kabar mak?” kata Ria. Satu persatu kami menjabat tangan Nyak Mi’ah. Dia duduk didepan pintu, hanya berbalut kain lusuh dan kaos merah tersampir di pundaknya. Tubuhnya kurus, wajah tuanya tampak jelas, matanya tak lagi bisa melihat namun suaranya masih lantang dan jelas terdengar. Nyak Mi’ah, usia lanjut tak menghilangkan ketegaran hidupnya, kami bercakap-cakap di sore cerah itu. Rumahnya tak lagi seperti yang diberitakan di TV atau milist, kini sudah setengah permanent, ada tembok dan triplek juga lantai semen, “seorang bapak dari Cempaka Putih yang membetulkannya” kata ibu Ita, wanita yang tadi berteriak-teriak. Dia tinggal di sebelah Nyak Mi’ah, sudah 20 tahun dia tinggal bersamanya. Dulu dia hanya mengontrak, namun kini dia sudah menganggap Nyak Mi’ah sebagai ibunya sendiri, Ia juga ikut mengurusi Nyak Mi’ah. Nyak Mi’ah juga sebenarnya tidak tinggal sebatang kara, adik kandungnya yang biasa dipanggil “Engkong” tinggal tidak jauh dari rumahnya. Namun karena keadaan ekonomi yang tidak jauh berbeda dengan Nyak Mi’ah. Engkong tidak dapat membantu banyak. Rumah Nyak Mi’ah kini lebih baik, namun aroma kotoran ayam yang terletak di sebelah rumahnya sangat tidak bersih. Aroma tersebut masuk sampai ke dalam rumah. Sungguh tidak sehat untuk orang seusia Nyak Mi’ah. Masih duduk di depan pintu, “Orang-orang ga tau dari mana neng pada datang, Nyak mah ga kenal…” katanya menanggapi orang-orang yang datang menjenguknya. “Ya Alhamdulillah, semoga yang membantu akan mendapat pahala dari Allah ya neng” katanya lagi. Nyak Mi’ah hari itu bercerita mengenai kompor baru yang dia miliki, Ia meminta ibu Ita untuk membelikannya ke pasar, namun ia lupa mata tuanya tak lagi mampu melihat lubang sumbu kompor, akhirnya ia hanya bisa memegang kompor dan panci kecil itu tanpa pernah menggunakan.

Nyak Mi’ah, wanita berusia 105 tahun ini telah melewati berbagai peralihan jaman di negeri ini, dia memang bukan seorang pejuang. Tapi dia juga mengalami kepahitan hidup, konon dia pernah diperkosa di jaman penjajahan dulu. “Nyak ngumpet didalam lubang” begitu katanya berulang-ulang ketika dia bercerita jaman peperangan dulu. Nyak Mi’ah kini tak lagi bisa membuat anyaman dari bamboo, matanya tak lagi se-awas dulu. Sulit baginya mengatur anyaman itu dengan jari-jari tuanya. Beruntung dia memiliki tetangga yang peduli dan orang-orang yang masih mau berbagi, seperti Anria “Anak kecil” yang datang untuk berbagi dan Anria tidak sendiri, Metty salah seorang relawan melati bersama teman-teman chattingnya juga menjenguknya sebelum kami tiba.

Semoga akan semakin banyak orang yang peduli dan berbagi. Dalam perjalanan pulang, Vie teringat risol pisang coklat dari pak Dedi tadi tak sempat di makan bersama, tertinggal di dalam tas “anak kecil” yang nakal. Yah rejekinya….. terimakasih “anak kecil”…. Terimakasih mau menemani kami menemui Nyak Mi’ah hari ini… [v]

Appreciation Day and Sharing Time KKS Melati 3 Juli 2005

Monday, July 18th, 2005

Minggu, 3 Juli 2005 pukul 12.30 - 17.00 sore, Zoom Resto and Lounge di tutup untuk umum, karena hari itu ada acara Appreciation Day & Shate KKS Melati, sebuah acara penghargaan atas kerja sama semua unsur terkait sehubungan dengan diselenggarakannya acara Outing Anak Jalanan tanggal 26 Juni lalu. Pertunjukan dimulai agak terlambat karena menunggu relawan melati yang sebagian sempet nyasar, maklum biasa ke daerah kumuh kini harus berada di tempat mentereng ha ha ha…..

Acara ini diawali dengan perpisahan Yuasa, salah seorang relawan Melati yang berasal dari Jepang, mengulas habis semua kesannya selama menjadi relawan. "Anak-anak itulah yang terlihat bagus ketika di foto…" itulah jawabannya ketika ditanya apa kiatnya sehingga foto hasil bidikannya terlihat memiliki jiwa. Sebuah bingkai foto dengan gambar dirinya sedang mengambil gambar menjadi kenang-kenangan untuk dia bawa pulang ke negeri matahari terbit.

Penampilan Sekar Voice - anak-anak Sekar yang bernyanyi, juga turut memeriahkan acara ini, dilanjutkan oleh Mozza seorang pendatang baru di blantika musik Indonesia, setelah itu Berbagi yang kali ini diwakili oleh Novie, Adith petir2 dan Sammy dari Hornet juga menjadi ajang yang tak kalah seru. Pengalaman2 mereka selama bergabung menjadi wacana tambahan bagi para tamu yang hadir. Penghargaan bagi para tukang foto outing juga dilakukan di acara tersebut…. selain itu banyak paparazzi yang berkeliaran selama acara berlangsung… sehingga tak jarang…. semua hasil bidikan mereka mampu menjawab semua pertanyaan dan gosip yang muncul… terlampir adalah berita selengkapnya dari Zoom Resto and Loung pada acara Appreciation Day & Shate KKS Melati. Selamat menikmati [v] http://groups.yahoo.com/group/kks_melati/files/

jalan - jalan ke Monas

Thursday, July 14th, 2005

Hi lovely melatieers,
Menyambung pembicaraan saat SHATE & Appreciation Day di Zoom cafe lalu dimana Teh Adith beride untuk provide anak-anak jalanan untuk jalan - jalan ke Monas dan diusahakan bisa provide 50 tiket masuk untuk anak2 jalanan plus pendamping dari rumah singgah, dengan demikian berarti akan ada satu kegiatan lagi di KKS Melati dalam waktu dekat.
- Insyaallah acara akan dilaksanakan  pada awal  agustus tanggal 14 agust 2005 dan waktu acaranya jam 9.00 s/d 15.00.
- Provide anak2 jalanan dari empat rumah singgah yang masing2 10 anak dan 1 pendamping/guru dari RS.
- Alasan untuk pemilihan anak2 tersebut bisa berdasarkan 10 anak yang berprestasi di RS masing2 dengan catatan yang tidak ikut outing kemarin dan tidak membatasi usia yang penting bisa di ajak jalan dan sehat.
Untuk terlaksananya acara tersebut maka dibutuhkan beberapa hal sbb:
* Penanggung Jawab untuk masing2 rumah singgah (PO). Ada 4 RS yang akan dilibatkan a.l. SAJA, SEKAR, GALUR dan DILTS. Tugasnya menyeleksi anak2 yang akan di ajak berdasarkan kategori di atas dan mengkoordinir masing2 RS.
* Relawan
Memang acara ini nanti tidaklah sebesar acara outing kemarin yang membutuhkan banyak relawan dan koordinasi yang mungkin terlalu rumit, tapi yang terpenting adalah seberapa besar yang bisa kita berikan untuk membuat acara lebih baik dan membahagiakan anak2. Bisa saja beberapa acara akan "Doing on The Spot" yaitu dilakukan sesuai dengan kondisi dan tempat disana.
> Acara nanti diperlukan  relawan pendamping untuk masing2 RS
> PO di museum
> Bagian konsumsi
> Photografer
>Transportasi untuk menjemput anak2 dari/ke RS.
> Seksi acara
> Perlengkapan.
> Hadiah
> Dana; amat sangat crusial. Mba Rini, gimana apa kita self funding again?
Kegiatan yang akan dilaksanakan di museum sejauh ini baru terpikir untuk keliling museum dan naik ke menara yang tinggi itu. Terus ada kuis2 buat anak2 yang mungkin setelah mereka mendapatkan ilmu dan pengetahuan tentang MONAS (Ide teh Adith). Naah..pasti kalau hanya muter2 museum mereka pasti boring alias bosen, so ada ide untuk mengisi acara selama disana untuk membuat acara lebih meriah dan menyenangkan??????? Let me know please…..
Well, untuk keikutsertaan relawan pls info dengan respon ke milis atau contact Arie 0815 84028743.
Dengan postingnya emai ini pendaftaran relawan resmi dibuka.
Demikian.
tks/arie

 

Kegiatan Juni 2005

Sunday, July 3rd, 2005

Program Outing Anak Jalanan - Cari Tahu Yuk!

Program outing Cari Tahu Yuk! Yang digelar pada tanggal 26 Juni 2005 lalu telah melibatkan 100 orang anak dari empat rumah singgah yang berbeda, sekitar 75 relawan dan donator yang hadir pada kegiatan tersebut. Program ini adalah salah satu program tahunan yang dirancang oleh KKS Melati yang bertujuan untuk mengajak lebih banyak kaum muda Jakarta untuk peduli kepada sesama, memberikan kesempatan kepada anak-anak di beberapa rumah singgah untuk menikmati kota Jakarta, saling mengenal & menambah pengetahuan mereka dengan beragam informasi dan kegiatan yang dapat dilakukan di Jakarta.

Tujuan utama dari outing ini adalah, mengajak anak-anak jalanan dari 4 rumah singgah di Jakarta utk bersama, belajar & memahami alam yg sekarang sudah sangat sulit diperoleh khususnya di tempat tinggal mereka. Outing ini merupakan sebuah program lanjutan dari program perpustakaan keliling yang dilakukan oleh KKS Melati setiap 3 bulan sekali.

Mengapa anak jalanan? Anak-anak jalanan merupakan sebuah permasalahan nasional yang sampai sekarang belum bisa diatasi dengan maksimal. Umumnya mereka bekerja di jalanan karena diharuskan oleh orang tuanya. Sebenarnya salah satu cara terbaik yang bisa kita lakukan adalah berhenti untuk memberi uang kepada mereka di jalanan, yang juga disarankan oleh UNESCO, tetapi selayaknya kita membantu dengan melakukan pelatihan dan pendidikan. Perhatian kepada mereka juga merupakan suatu perwujudan kemampuan kita untuk membagi rasa empati dan tetap melihat anak-anak jalanan itu sebagai bagian dari masa depan kita semua.

Menjadi anak jalanan bukan sebuah hidup yang menyenangkan, karena di usia muda mereka diharuskan untuk berada di jalanan yg beresiko dengan kesehatan dan keselamatan mereka. Tetapi seperti yang kita ketahui bahwa tidak ada anak yang dapat memilih di mana dia dilahirkan dan siapa orang tuanya Mungkin, kita tidak akan berhasil membuat semua anak-anak itu memiliki masa depan yang lebih baik. Tetapi setidaknya kita mencoba untuk membekali mereka dengan pengetahuan dan ketrampilan yang sebagian dari mereka mungkin akan memanfaatkannya untuk masa depan mereka. Dengan banyaknya generasi muda yang cerdas dan memiliki ketrampilan akan dapat membantu kita semua untuk sebuah masa depan yang lebih baik lagi.

PT. Excelcomindo Pratama telah membantu kami meminjamkan 20 buah mobil kijang untuk menjemput dan mengantarkan pulang anak-anak dari empat rumah singgah. Para relawan pendamping yang telah kami tugaskan untuk menemani penjemputan anak-anak tersebut memiliki tugas khusus pada hari itu untuk menemani anak-anak selama perjalanan berlangsung. Ada 25 relawan pendamping secara keseluruhan yang membantu mengorganisir dan membagi anak-anak menjadi 20 kelompok dalam kegiatan ini. Mereka menggunakan kaos dan topi sumbangan dari PT. Exxon Mobil.

Tujuan pertama yang mereka singgahi adalah Museum Layang-layang Indonesia, yang terletak di Jl. H Kamang, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Museum yang didirikan pada bulan Maret 2003 oleh Ibu Endang telah menjadi tempat yang tepat untuk memberi pengetahuan. Di lokasi ini anak-anak belajar tentang sejarah layang-layang, menikmati pemutaran audio visual tentang layang-layang, berkeliling di museum layang-layang untuk belajar mengenal bentuk layang-layang dari seluruh pelosok Indonesia, membuat dan mewarnai sendiri layang-layang mereka di acara workshop pembuatan layang-layang.

Tampak jelas raut muka bahagia terpancar dari ketekunan mereka membuat layang-layang, lalu mewarnai dan memasang ekor lalu menyimpan layang-layang hasil karyanya dengan bangga, lalu dibawa pulang dan dipamerkan kepada seisi rumah. Kegiatan di museum layang-layang tidak berakhir sampai disitu saja. Mereka masih harus menyelesaikan beberapa soal yang diberikan oleh relawan yang ada di Pos Museum Layang-layang. Setiap kelompok berlomba-lomba menyelesaikan tugas yang diberikan dan berharap mendapatkan nilai yang tertinggi untuk dapat memenangkan hadiah istimewa.

Tuntas dari Museum layang-layang, mereka bergegas menuju Hutan Wisata Kali Pesanggrahan, yang terletak di belakang kompleks Vila Delima, Jl. Karang Tengah, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Hutan wisata kali pesanggrahan adalah hutan kota seluas 40ha yang dikelola dan dikonservasi oleh Kelompok Tani Sangga Buana pimpinan Chaeruddin (Mang Udin) sejak Februari 2003.

Keinginan Mang Udin untuk menyelamatkan sedikit tanah di Jakarta sebagai tempat belajar kaum muda patut diacungi jempol. Kami rasa hanya sedikit dari jutaan penghuni Jakarta yang menginginkan keasrian kota Jakarta dan mengambil tindakan untuk menyelamatkannya. Selama 15 tahun ini usaha Mang Udin dan para petani lainnya telah mengubah tempat pembuangan sampah menjadi hutan kota dimana menyimpan kurang lebih 20.000 species tanaman obat, buah-buahan, tanaman langka yang jarang ditemui lagi di Jakarta, termasuk satwa langka yang masih dapat didengar selagi kami berada di sana.

Di Hutan Kali Pesanggrahan kami telah menyiapkan 5 buah pos yang harus dikunjungi oleh anak-anak. Pos I adalah penanaman pohon. Di lokasi ini 20 buah bibit pohon sumbangan dari PT Exxon Mobil diserahterimakan secara simbolis kepada para petani di Hutan Pesanggrahan yang dalam hal ini diwakili oleh Bapak H. Chaerudin. Beliau menjelaskan pula pentingnya menjaga lingkungan dan arti dari penanaman pohon tersebut kepada anak-anak.

Setelahnya kegiatan penanaman pohon yang melibatkan 20 kelompok dimulai. Penanaman pohon adalah pengalaman baru bagi anak-anak rumah singgah tersebut. Lingkungan rumah dan keterbatasan lahan dimana mereka berasal tidak memungkinkan mereka untuk menanam pohon. Tidak heran, mereka bersemangat sekali di kegiatan ini. Setelah selesai penanaman, Pak Chaerudin menyampaikan bahwa mereka dapat kembali ke Hutan ini untuk merawat dan menyaksikan pohon yang ditanamnya menjadi besar, atau bahkan memanen buahnya jika ada. Pada beberapa pohon ini akan diberi tanda bahwa penanaman pohon tersebut dilakukan oleh KKS Melati pada acara Cari Tahu Yuk! Seusai melakukan penanaman pohon, setiap kelompok masih harus menyelesaikan permainan kelompok.

Permainan ini dipandu oleh Remaja Kali Pesanggrahan, sedangkan untuk kegiatan debriefing dibantu oleh relawan KKS Melati, termasuk beberapa relawan dari HORNET. Di setiap pos pula disediakan minuman sumbangan dari Teh Botol Sosro, CNI dan sumbangan air mineral dari para relawan dan donatur. Permainan pertama disebut Borgol Kolektif, dimana setiap orang diikat dengan tali lalu diminta untuk melepaskan diri tanpa melepas ikatan talinya.

Permainan ini adalah permainan yang membutuhkan kerjasama kelompok dimana tidak ada satu orang anggota kelompok yang dapat melepas talinya tanpa bantuan orang lain. Dari permainan ini, anak-anak rumah singgah diharapkan dapat melakukan kerjasama dengan orang lain dan saling membantu untuk meringankan permasalahan yang ada. Seusai melakukan permainan pertama, setiap kelompok melanjutkan perjalanan sesuai dengan rute yang telah ditentukan, menuju pos berikutnya. Selama perjalanan setiap kelompok diberikan amplop berisi pertanyaan yang harus mereka serahkan di pos terakhir. Pos kedua adalah Jebakan Botol.

Dalam permainan ini setiap kelompok diminta untuk memindahkan gelang ke setiap botol yang disediakan. Permainan ini menuntut kerjasama kelompok dan konsentrasi yang tinggi. Pos 3 adalah permainan pengetahuan, dimana setiap kelompok diuji pengetahuannya tentang kondisi lingkungan dimana mereka berada saat itu dan untuk mengevaluasi sejauhmana pengamatan mereka terhadap lingkungan. Jadilah Meina dan Yeti, relawan KKS Melati yang berada di pos tersebut memberikan banyak pertanyaan mengenai tanaman yang mereka temui hari itu dan apa kegunaannya. Ningsih, seorang relawan KKS Melati mengatakan bahwa kelompok anak-anak yang pergi bersamanya hari itu dengan tidak ragu-ragu bertanya kepada para petani yang mereka temui sepanjang perjalanan, sehingga setibanya mereka di pos, mereka dapat menjawab pertanyaan dengan baik.

Titian Bambu permainan yang disediakan di pos selanjutnya, yaitu pos 4, adalah sebuah permainan teka-teki dimana setiap kelompok diminta memindahkan bamboo sesuai dengan soal yang diberikan. Permainan ini menuntut kreativitas dan kerjasama kelompok dalam menyelesaikan masalah. Pos 5 disebut dengan Spider Web. Inti permainan ini mengajarkan anak untuk dapat saling bekerjasama, bahu membahu dalam menyelesaikan persoalan / pekerjaan, sehingga apa yang tadinya berat akan menjadi ringan, yang sulit akan menjadi mudah. Lewat kerjasama ini para relawan yang melakukan debriefing mengajak anak-anak jalanan untuk saling membantu temannya dimanapun mereka berada.

Menurut Teguh, relawan dari HORNET, anak-anak yang mengikuti permainan ini sangat antusias karena hampir keseluruhan peserta mencoba untuk ikut bermain. Setelah menyelesaikan keseluruhan permainan di 5 pos, mereka berkumpul di sebuah tempat yang telah disediakan, setelah menyerahkan amplop jawaban atas pertanyaan yang diberikan. Di tempat tersebut mereka beristirahat, makan snack rebus sambil minum kelapa muda, lalu dilanjutkan dengan makan siang. Makan siang kali ini adalah sumbangan dari Hard Rock Café, sebanyak 250 paket. Di tempat ini pula dibagikan minuman sumbangan dari Teh Botol Sosro dan CNI.

Setelah makan siang, seluruh peserta dan relawan yang terlibat menikmati suguhan pertunjukan pada hari itu. Acara dipimpin oleh Virgina dan Iyu, relawan KKS Melati. Berbagai permainan digelar untuk mereka. Hadiah permainan ini didukung oleh Go-Lo sebuah toko diskon yang telah bersedia memberikan diskon 50% dari seluruh mainan yang dibeli di toko tersebut.

Selain permainan menarik, beberapa anak jalanan dari rumah singgah SEKAR (Tanjung Priok) dan DILTS (Tanjung Barat) memberanikan diri tampil menghibur teman-temannya. Anak-anak SEKAR membawakan 2 buah lagu PADI, sedangkan anak-anak DILTS bernyanyi dan membaca puisi. Lagunya cukup menyentuh hati dan puisinya sangat asli dan mengundang tepuk tangan tak berkesudahan. Setelah itu Pak Chaerudin sebagai perwakilan para petani Hutan Kali Pesanggrahan memberikan pemahaman mengenai pentingnya hutan bagi ekosistem lingkungan dan meminta anak-anak untuk selalu menjaga kelestarian hutan sebagai milik bersama.

Sebelum usai kegiatan, diumumkan pemenang ke-1, 2, dan 3. Pemenang pertama mendapat hadiah tiket masuk ancol dan dufan, pemenang kedua mendapat hadiah tiket masuk ancol dan berenang di waterboom ancol, sedangkan pemenang ketiga mendapat hadiah tiket masuk ancol dan seaworld Indonesia. Tiket masuk seaworld Indonesia adalah complimentary tiket sumbangan dari Seaworld Indonesia. Keseluruhan pemenang yang berjumlah 15 orang mendapatkan paket hadiah dari PT. Ecxelcomindo Pratama (XL) berupa ransel XL, radio digital saku, handuk, peralatan mandi, kue-kue dan coklat, susu. Sedangkan seluruh peserta anak-anak dari rumah singgah membawa pulang goody bags yaitu tas sekolah paddle pop, berisi botol minum, jam tangan, kaos, dan pulpen sumbangan dari Yayasan Unilever Peduli, 3 sachet Sariwangi Madu sumbangan dari Sariwangi, Dua edisi tabloid GAUL, satu edisi majalah Cool and Smart Junior, paket buku tulis dan pulpen sumbangan dari KKS Melati, dan satu buah kaos untuk ganti baju sumbangan dari Tokokaos.com.

Semoga keseluruhan kegiatan hari itu benar-benar bermanfaat bagi anak-anak rumah singgah dan juga untuk relawan, sehingga mereka dapat selalu berbagi kepada siapapun dalam interaksinya dengan lingkungan dimana mereka berada. Acara ini terselenggara berkat dukungan HORNET (Honda Riders on Internet), Exxon Mobil, Museum Layang-layang, Hutan Kali Pesanggrahan, Sariwangi, CNI, Tokokaos.com, XL, Hard Rock Cafe, Teh Botol Sosro, Seaworld Indonesia, Tabloid GAUL, dan Majalah C ‘n S Junior, para donator dan relawan yang telah menyumbang dana.