“Anak kecil itu datang lagi nih mak!”
Jakarta, 16 Juli 2005
“Anak kecil itu datang lagi nih mak!”
Jum’at malam Jakarta diguyur hujan lebat, kemacetan pun terjadi dimana-mana, begitupula banjir. Hampir disetiap sudut kota, bahkan Sarinah pun kebanjiran. “Hampir sedengkul” kata Dessi yang baru saja menerima sms dari Renny. Lebatnya hujan juga masuk ke dalam kamar vie, retakan genting yang termakan usia tak mampu lagi mencegah tetesan air hujan masuk ke dalam kamar. Merembes masuk memenuhi ruangan, Vie pun baru tahu ketika pulang dari beskem Melati tadi malam, usai meeting evaluasi outing, 26 Juni 2005 yang lalu… kerja keras sebelum tidur pun terpaksa dilakukan, padahal lelah mulai bergayut mengajak Vie merebahkan tubuh yang lelah seharian.
Matahari Sabtu pagi, bersinar cerah sekali. Agenda Vie hari ini : Menjenguk nyak Mi’ah dan SDS Khairul Uswah, agenda kegiatan KKS Melati. Tampaknya tidak akan terlalu banyak yang ikutan menjenguk Nyak Mi’ah karena tak banyak respond di milist. Tak apalah, ada Ria yang sudah survey kesana, Dian, Rini dan Vie, ini sudah lebih dari cukup.
Jam 10 pagi Rini sudah tiba di beskem, masih sepi, cuma ada suara radio di dalam, Vie baru saja keluar membuang sampah dan mengembalikan barang ke rumah dari beskem. “Resiko kalau rumah deket beskem, semua barang rumah bisa berpindah ke beskem tanpa disadari”. Tak berapa lama, Dian datang, dia confirm untuk ikutan ke Nyak Mi’ah semalam. Ini pertama kalinya Dian ke beskem setelah yang pertama gagal karena harus menerima panggilan tugas dari ‘negara’.
Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, hampir jam 11 siang, ria belum juga datang, Vie menerima sms darinya “ Mbak, maaf aku telat ada perlu sbntr – mkn sktr jam 11-an-thx*anria* itu beberapa menit lalu dan kini hampir jam 12 siang, anria tidak bisa dihubungi, akhirnya Vie, Rini dan Dian memutuskan untuk pergi ke SDS Khairul Uswah dulu baru ke Nyak Mi’ah.
SDS KU
Akhirnya kami putuskan untuk pergi ke SDS KU di daerah Petamburan, Jakarta Barat. Kunjungan kami ke sekolah ini adalah agenda rutin KKS Melati, menyampaikan beasiswa untuk anak-anak yang bersekolah disana. Beasiswa untuk membantu biaya operasional sekolah selama dua bulan kedepan. Dari kantornya Ria akhirnya berhasil menyusul kami disana.
Sekolah Dasar Swasta Khairul Uswah (SDS KU) adalah sekolah yang didirikan untuk menampung anak-anak dari keluarga kurang mampu, yatim piatu dan anak-anak dari keluarga yang memiliki masalah sosial. Menyadari pentingnya pendidikan dasar bagi anak-anak, pak Dedi bersama masyarakat sekitar membuat sekolah ini sebagai sarana belajar mengajar buat anak-anak ini. Guru-guru yang mengajar hanya dibayar secukupnya karena dana yang tidak memadai, mereka lebih memprioritaskan pada kebutuhan anak-anak untuk bersekolah.
Beberapa waktu lalu, KKS Melati mengajak para relawan untuk membantu pengadaan beasiswa ke Khairul Uswah, dan telah tercatat beberapa donator yang membantu membiayai dalam jangka waktu tertentu. Dan secara rutin selama dua bulan sekali kami menyalurkan dana kesana. Masih banyak yang diperlukan sekolah ini, lokasi sekolah yang berada didalam gang kecil ditengah perkampungan sangat tidak layak disebut sebagai sekolah. “Saya bermimpi anak-anak berbaris melakukan upacara di lapangan sekolah” ujar pak Dedi saat kami berkunjung kesana. Saat ini pak Dedi masih berupaya untuk mencari lokasi strategis untuk memindahkan sekolahnya yang baru berusia 3 tahun ini ke tempat yang lebih layak. Memiliki semua prasarana yang dibutuhkan oleh sebuah sekolah. Sebuah cita-cita luhur dari seorang kepala sekolah yang berani mengadu kepintaran murid-murid di sekolahnya dengan murid-murid dari sekolah lain.
Usai mengunjungi SDS KU, perjalanan kami lanjutkan menuju rumah Nyak Mi’ah, namun sebelumnya kami sempat mampir ke Giant, Plaza Semanggi, membeli oleh-oleh untuk Nyak Mi’ah.
Nyak Mi’ah
Akhirnya kami pergi mengunjungi nyak Mi’ah setelah Ria pergi mengunjunginya beberapa waktu sebelumnya. Buah tangan untuk nyak Mi’ah telah kami bawa, seperti beras, minyak, roti, handuk, selimut dan lainnya. Nyak Mi’ah, kami mengenalnya dari sebuah postingan di milist KKS Melati beberapa waktu yang lalu. “Nyak Mi’ah terpaksa harus tetap bekerja membuat anyaman dari bamboo untuk menyambung hidup. Setiap hari, dalam kondisi sehat, ia hanya mampu mengerjakan sebuah anyaman yang di jual seharga Rp. 2.000,-“ – liputan6.com
Ria, begitu Vie memanggil Anria, tergerak untuk melakukan survey lebih dahulu, dia mencari tahu lokasi dimana nyak Mi’ah tinggal dan apa yang diperlukan. Relawan-relawan Melati lain sedang sibuk menyiapkan outing untuk anak Jalanan pada saat itu.
Bersama Nia, Ria melakukan survey mengunjungi nyak Mi’ah di daerah Cipinang Muara. Sore itu, dengan taksi kami melaju ke rumah Nyak Mi’ah, melewati daerah Kali Malang yang kebetulan tidak jauh dari rumah Manggi, kami pun mengajak Manggi ikut serta. Di Jl. Cipinang Bali II No. 38, RT 008/013, Cipinang Muara, Jakarta Timur, di dalam gang kecil, akhirnya kami tiba di rumah Nyak Mi’ah.
Seorang ibu berteriak, “Mak, anak kecil itu datang lagi nih mak!” dan Ria pun menyalami mereka satu per satu, memeluk mereka seakan mereka memang benar keluarganya. “Nih mak anak kecil yang nakal, yang kemaren ambil foto dan keliaran di kandang ayam situ mak!” kata ibu itu lagi. Nyak Mi’ah beberapa kali bertanya siapa yang datang… dan si anak kecil pun dibawa dihadapan Nyak Mi’ah “Ini mak ini si anak kecil pulang” Vie, Rini, dan Dian cuma tersenyum, Ria si”anak kecil” cuma tersenyum dan menjabat tangan Nyak Mi’ah dengan erat. “Apa kabar mak?” kata Ria. Satu persatu kami menjabat tangan Nyak Mi’ah. Dia duduk didepan pintu, hanya berbalut kain lusuh dan kaos merah tersampir di pundaknya. Tubuhnya kurus, wajah tuanya tampak jelas, matanya tak lagi bisa melihat namun suaranya masih lantang dan jelas terdengar. Nyak Mi’ah, usia lanjut tak menghilangkan ketegaran hidupnya, kami bercakap-cakap di sore cerah itu. Rumahnya tak lagi seperti yang diberitakan di TV atau milist, kini sudah setengah permanent, ada tembok dan triplek juga lantai semen, “seorang bapak dari Cempaka Putih yang membetulkannya” kata ibu Ita, wanita yang tadi berteriak-teriak. Dia tinggal di sebelah Nyak Mi’ah, sudah 20 tahun dia tinggal bersamanya. Dulu dia hanya mengontrak, namun kini dia sudah menganggap Nyak Mi’ah sebagai ibunya sendiri, Ia juga ikut mengurusi Nyak Mi’ah. Nyak Mi’ah juga sebenarnya tidak tinggal sebatang kara, adik kandungnya yang biasa dipanggil “Engkong” tinggal tidak jauh dari rumahnya. Namun karena keadaan ekonomi yang tidak jauh berbeda dengan Nyak Mi’ah. Engkong tidak dapat membantu banyak. Rumah Nyak Mi’ah kini lebih baik, namun aroma kotoran ayam yang terletak di sebelah rumahnya sangat tidak bersih. Aroma tersebut masuk sampai ke dalam rumah. Sungguh tidak sehat untuk orang seusia Nyak Mi’ah. Masih duduk di depan pintu, “Orang-orang ga tau dari mana neng pada datang, Nyak mah ga kenal…” katanya menanggapi orang-orang yang datang menjenguknya. “Ya Alhamdulillah, semoga yang membantu akan mendapat pahala dari Allah ya neng” katanya lagi. Nyak Mi’ah hari itu bercerita mengenai kompor baru yang dia miliki, Ia meminta ibu Ita untuk membelikannya ke pasar, namun ia lupa mata tuanya tak lagi mampu melihat lubang sumbu kompor, akhirnya ia hanya bisa memegang kompor dan panci kecil itu tanpa pernah menggunakan.
Nyak Mi’ah, wanita berusia 105 tahun ini telah melewati berbagai peralihan jaman di negeri ini, dia memang bukan seorang pejuang. Tapi dia juga mengalami kepahitan hidup, konon dia pernah diperkosa di jaman penjajahan dulu. “Nyak ngumpet didalam lubang” begitu katanya berulang-ulang ketika dia bercerita jaman peperangan dulu. Nyak Mi’ah kini tak lagi bisa membuat anyaman dari bamboo, matanya tak lagi se-awas dulu. Sulit baginya mengatur anyaman itu dengan jari-jari tuanya. Beruntung dia memiliki tetangga yang peduli dan orang-orang yang masih mau berbagi, seperti Anria “Anak kecil” yang datang untuk berbagi dan Anria tidak sendiri, Metty salah seorang relawan melati bersama teman-teman chattingnya juga menjenguknya sebelum kami tiba.
Semoga akan semakin banyak orang yang peduli dan berbagi. Dalam perjalanan pulang, Vie teringat risol pisang coklat dari pak Dedi tadi tak sempat di makan bersama, tertinggal di dalam tas “anak kecil” yang nakal. Yah rejekinya….. terimakasih “anak kecil”…. Terimakasih mau menemani kami menemui Nyak Mi’ah hari ini… [v]
December 11th, 2008 at 12:05 pm
Blogwalking ..
nice posting i found here,.. thanks for the info