PUPUS

PUPUS

By Wiwi, Relawan KKS Melati

 

Senin, tujuh belas oktober dua ribu

lima

Petunjuk lewat SMS yang dikirim oleh Dindin, pengelola Yayasan Sekar tidak jadi saya gunakan karena ternyata Pak Indro sudah pernah menjemput anak-anak di sini. “Waktu outing ke hutan

kota

itu lho mbak..

Serombongan anak2 menghentikan laju kendaraan kami. “Ini tempatnya mbak”. Kata pak Indro, pengemudi yang ramah dari XL.

Koq mobilnya cuma dua, Kak?”

Kenapa Kakak sendirian aja?

Kakak masih inget saya nggak?

Hehehe. Aneh rasanya di usia 40 masih dipanggil kakak oleh anak-anak yang lebih pantas menjadi anak-anak saya.

Dibantu oleh beberapa anak-anak Sekar, segera Pak Indro menurunkan kaus dan topi sumbangan yang akan dipakai oleh anak-anak itu. Ada sekitar 80 anak berbagai usia yang menunggu dengan tidak sabar. Dengan tertib anak-anak dari berbagai usia ini berbaris menunggu pembagian kaus dan topi. Wajah-wajah sumringah itu. Betapa mudahnya membuat bahagia anak-anak ini. Dan haru menyergap tanpa sempat dihentikan. Memandang wajah-wajah ceria ini, memandang para relawan Sekar yang begitu bertanggungjawab, memandang Ibu-Ibu yang berjejer melepas anak-anaknya.

Usai membagikan kaus dan topi kepada anak-anak tersebut, kami segera menuju ke Hard Rock Café, tempat diselenggarakannya acara.berbuka puasa.

Di dalam mobil yang kami kendarai, duduk dengan tertib si mungil Asri, Rita, dan Baron yang membawa drum kecil di bangku tengah lalu ada Utari, Puji dan Faidzin (Ijin) yang tak berhenti bersenandung.

Nyanyi lagu apa sih?” tanya saya pada Ijin. “Lagu Anak Pinggiran, Kak.

Coba nyanyi’in doong. Pak Indro juga mau denger kan Pak?”

Yang ditanya mengangguk mengiyakan.

Tanpa ragu Ijin segera memetik gitar yang sedari tadi dipeluknya dan mulai bernyanyi dengan suaranya yang bening. 

inilah cerita anak pinggiran

menggenggam sebuah harapan

setia memberi tanpa meminta lagi

untuk mewujudkan cita-citanya

tak pernah takut dan tak pernah surut

walau dirundung duka

hidup ceria walau orang suka

menyingkirkannya

anak pinggiran

tak pernah merasa gentar

menggenggam mimpi-mimpi

di atas kakinya sendiri

mentari

sahabat anak pinggiran

rembulanpun menjadi teman

setia memberi

tanpa meminta lagi

untuk mewujudkan cita-citanya

siangpun menjadi malam

malampun menjadi siang

selalu berharap pada jalanan

bagai ibunya

Baron yang pendiam asik memukul-mukul drum sambil bersenandung mengikuti lagu yang dinyanyikan dengan apik oleh Ijin.

Asri, gadis cilik berusia 9 tahun tampak tenang menikmati pemandangan di pangkuan saya. Tubuhnya yang ringkih terasa begitu ringan.

Apa ngga bingung ya Kak, orang yang mbuat jalan tol muter-muter gini?”, tanya Ijin ketika kendaraan kami melintasi jalan tol Cawang.

Kak, saya mau muntah” kata Asri lirih dan dengan tangkas Pak Indro menepikan kendaraan. Saya terhenyak. Aduh, saya seorang ibu, tetapi saya bahkan tidak pernah sanggup membersihkan muntah anak kandung saya sendiri, karena otomatis saya juga akan ikut muntah. Tetapi untungnya Asri tidak jadi muntah dan segera kami beriringan meneruskan perjalanan.

Baron, si penabuh drum yang pendiam ini mengaku berusia 22 tahun ketika ditanya. Sungguh saya tidak menyangkanya, karena wajahnya masih begitu belia. “Saya udah ngga sekolah lagi, sudah kerja di yayasan. Bantu-bantu aja kak. Apa aja yang bisa dikerjain.” Jelasnya datar.

Pukul 4.30 rombongan kami tiba di Hard Rock Café. Puji, Rita dan Ijin berbisik-bisik sambil memandang berkeliling. Banyak pesohor yang mereka kenal rupanya.

Kak, itu Sulis ya? Saya mau difoto doong.” Jepret

Kak, saya mau difoto sama Heidy Yunus dong.”. Jepret.

Itu kan Maya Ratu, aduh cantiknya.., foto dong Kak.” Jepret.

Hampir pukul 5.30 petang ketika rombongan kedua tiba. Segera saja anak-anak ini menempati kursi-kursi yang sudah disediakan. Ternyata tak mudah menyuruh anak-anak ini untuk duduk terlebih saat mereka melihat para personil Dewa.

Pinjem pulpen dong Kak, mau minta tanda tangan.Alhasil topi, sobekan kertas, kaus menjadi sarana untuk menorehkan tanda tangan. Tantowi Yahyapun tak luput dari serbuan anak-anak kecil yang mengitarinya menanti giliran menunggu tanda tangan. “Emang tau dia siapa?” goda saya pada seorang anak. Dengan enteng dia menjawab,”Itu lho Kak, yang di acara hu won tu bi yang tiap malem minggu itu.  Hehehe… oke deh kakak.

Wiko yang malam itu berdandan ala A’a Reza dengan sorban putih terjurai terbengong-bengong ketika ada seorang anak meminta tanda tangannya.”Koq gue dimintain tanda tangan juga sih Bun?” hehehe…

Ada kolak pisang, ada sup, ada opor ayam, ada sayur cah, ada telur kecap, tapi “Koq telurnya separuh sih Kak?”

Hahaha…, tawa saya pecah tak tertahan.

Sekar_in_action2

Buat saya puncak acara malam itu adalah ketika rombongan Baron, Ijin, Lendra dan 3 temannya naik ke atas pentas dan dengan percaya diri menyanyikan lagu Anak Pinggiran dan Elang (Dewa). Bukan suatu kemustahilan apabila kelak mereka bisa bernyanyi di tempat ini sebagai group pembuka atau malah menjadi leading band? Wallahuallam. Keberuntungan tidak selalu berpihak kepada semua orang, tetapi bermimpi adalah hak bagi semua manusia. Teruslah bermimpi, Baron, teruslah menulis puisi. Karena hidup itu sendiri adalah puisi. Teruslah bernyanyi Baron. Karena setiap helaan nafasmu adalah senandung.

Sekar_in_action   

“ONCEEEEEEEEEEEE………………..”

Dan anak-anak histeris, dan pengunjung histeris dan sayapun histeris ketika personel Dewa naik ke atas pentas. Satu persatu.

Dan tepuk tangan gemuruh mengiring lagu Pupus.

Dan saya berteriak sepenuh hati.

"ONCEEEEEEEEEEEEEEEEEE………”

Terima kasih buat semua yang sudah membantu mewujudkan acara ini, semuanya tanpa kecuali. Special thanks buat Once, I love you more and more each day beibeh…

………………………

baru kusadariiiiiiii

cintaku bertepuk sebelah tangaaaaaaaaaan

………………………

(wiwi, 171005)

Leave a Reply