Archive for March, 2006

WORLD BOOK DAY

Friday, March 3rd, 2006

WORLD BOOK DAY

PERPUS DIKNAS

2-5 MARET 2006

Day One.

Aku datang tepat jam 10 pagi dan di Panggung Utama sedang ada seremonial pembukaan kegiatan World Book Day (WBD) yang tahun ini dikelola oleh Forum Indonesia Membaca. Tahun ini adalah tahun pertama Indonesia merayakan WBD dan memang sudah seharusnya kegiatan ini disambut dengan gegap gempita. Seharusnya bahkan diseluruh pelosok Indonesia juga merayakannya dengan caranya masing-masing. 

Di Jakarta sendiri yang aku tahu, WBD diperingati sendiri-sendiri oleh para penerbit buku. Grassindo berpameran di Bentara Budaya Jakarta dengan tawaran diskon sampai 80%. Ada banyak sekali buku-buku idamanku yang dijual hanya seharga Rp. 1,000. Hari minggu tanggal 5 Maret 2006 nanti, di Istora Senayan juga ada pameran buku, mungkin diskonnya hanya 10-15%. Di toko-toko buku juga tidak kalah menariknya. Di Toko Buku Gunung Agung menawarkan buku-buku tertentu dengan diskon sampai 50%. Di Perpustakaan Diknas sendiri, mulai tanggal 2-5 Maret 2006 ini juga menggelar pameran buku dengan dikson sampai 70%.

Begitu banyak buku murah di Jakarta, tapi mungkin tidak semua kota besar di Indonesia punya kesempatan yang sama. 

Sambil geleng-geleng kepala melihat banyaknya buku yang sedang didiskon dan begitu banyak orang-orang di luar Jakarta yang tidak punya kesempatan untuk datang ke Jakarta, tetapi justru di Jakarta sendiri tidak banyak orang yang datang berkunjung hari itu, aku kembali lagi ke stand KKS Melati. “Mungkin karena pameran dibuka pada hari Kamis, jam kerja pula”, pikirku. 

Empat hari ini, seperti rencana, KKS Melati membuka standnya disana. Ada 10 foto kegiatan yang kami pamerkan. Beberapa diantaranya adalah foto-foto hasil karya Mbak Liz dan Didi. Banyak pengunjung yang memuji foto-foto hasil karya mereka dan berdoa semoga KKS Melati dapat terus menjalankan kegiatannya. 

Tidak berapa lama banyak sekali karyawan Diknas yang melihat-lihat pameran. Ada seorang bapak yang kelihatan tertarik dengan KKS Melati, semua foto-foto dilihat-lihat, semua barang dipegang-pegang dan akhirnya ia berkomentar, katanya ”Kenapa ikutan pameran?” Aku menjelaskan beberapa kegiatan yang berkaitan dengan buku dan mengapa kami berpameran disana. Tentunya selain untuk mendapatkan eksposur atas kerja yang sudah dilakukan, pameran ini lebih kepada upaya untuk merangsang komunitas lain untuk terus melakukan apa yang sudah mereka mulai dan tidak lupa juga sebagai upaya untuk menggalang bantuan dan jaringan untuk meneruskan kerja yang sudah kami mulai selama ini.

”Dananya dari mana, ya?” Tanya Bapak itu lagi. GUBRAXXX….  Selama ini banyak orang berpikiran bahwa untuk melakukan sebuah kegiatan sosial, selalu diperlukan dana yang tidak sedikit. Parahnya ada yang berpikiran bahwa jika tidak punya cukup dana, janganlah melakukan sebuah kegiatan. Persepsi yang disampaikan oleh bapak tersebut boleh jadi adalah pikiran kebanyakan orang saat ini. Tetapi alhamdulillah sudah hampir 4 tahun ini, kegiatan KKS Melati dilakukan karena ada relawan yang ingin melakukan sesuatu. Soal dana, insya alloh akan ada jalan dan rejekinya sendiri-sendiri. Tetapi seperti yang sering dikatakan Dessy, salah seorang relawan KKS Melati : ”jika kita punya keinginan yang kuat untuk membuat kegiatan itu, maka bahkan seluruh dunia akan berkonspirasi untuk membantu kita mewujudkannya”. Dan begitulah kira-kira kata-kata yang seringkali didengar pada saat ada pertemuan relawan KKS Melati dan begitulah memang seharusnya sebuah kegiatan itu dibuat.

Aku percaya bukan hanya KKS Melati yang menerapkan prinsip seperti itu, tetapi nyaris seluruh komunitas yang ada di pameran WBD hari itu juga melakukan hal yang sama. Rumah Pelangi salah satu contohnya. Gunawan, Desi, Bahar, Iwan, dan Purnomo, datang dari Desa Kadirojo - Muntilan dan benar-benar datang dengan biaya yang sangat terbatas. Apa yang mereka lakukan sehingga sampai ke Jakarta itulah yang menarikku untuk ngobrol dengan mereka hari itu.  Iwan datang membawa 3 patung batu buatannya sendiri. Untuk bisa pergi ke Jakarta, ia kerja siang malam membuat patung batu dan menawarkannya kesana-sini. Jika Iwan bisa sampai ke Jakarta, itu adalah prestasinya tersendiri. Purnomo, seorang remaja usia 19 tahunan lulusan SMP dan tinggal di Dusun Kadirojo, awalnya ia mempunyai pekerjaan sebagai penjual pasir Merapi dengan cara menjadi kernet angkutan pasir dan menawarkan/menerima pesanan pasir. Ketika ada agenda WBD, ia termasuk yang pertama mengacungkan jari untuk ikut ke Jakarta. Namun apa daya, karena tidak punya uang saku cukup, ia rutin nongkrong di pojok desa untuk menawarkan jasa ojek. Iapun sampai di Jakarta. 

Di Pameran itu aku juga bertemu dengan seorang ibu-ibu pengunjung pameran. Datang bersama ibu-ibu lainnya, ia tampak semangat melihat-lihat isi stand KKS Melati. Tiba-tiba pandangannya jatuh ke pouch-pouch HP yang didisplay disana.

Wah, ini apa?”

”Tempat Pouch, Bu”

”Berapa harganya?”

”Cuma sepuluh ribu”

”Wah kok mahal ya?” katanya sambil mengeluarkan Hpnya dan mencoba pouchnya itu.”Lima ribu ya? Saya beli dua!”

”Belum bisa, Bu” 

Dalam hati aku sedih juga. Pouch yang hanya sepuluh ribu ternyata masih juga ditawar. Tidakkah ibu itu menghargai bahwa ini adalah sebuah usaha dari sebuah kelompok kerja relawan yang ingin mengumpulkan dana untuk kegiatan sosial yang ingin mereka lakukan? Memang tidak banyak orang yang bisa melihat itu. Mungkin juga mereka tidak bisa melihat bagaimana begitu banyak komunitas bisa berada di pameran itu. Bahkan sempat aku dengar ada saja yang mengomentari bahwa kemungkinan panitia mendapatkan untung dari kegiatan ini. Bagaimana bisa untung, sedangkan kami yang berpameran disanapun tidak dipungut biaya apa-apa, padahal biaya sewa ruangan yang dilakukan oleh Panitia adalah sebesar Rp. 10 juta, belum lagi AC yang tidak dingin itu memakan biaya Rp. 7 juta. 

Tapi sedihku tidak berlangsung lama. Selama menjaga pameran ini, ada banyak hal yang menarik dan tidak terlupakan. Seorang anak kecil berambut keriting sibuk berlarian dari satu stand ke stand yang lain. Setiap kali melewati gambar kaki yang ditempel di lantai semalam, ia selalu berhenti untuk mengukur kaki dan loncat-loncat mengikuti dimana gambar tempel berbentuk kaki itu kami pasang. Lucu dan cukup menghibur para penjaga stand disekitar kami. Apalagi desain kupu-kupu buatan Coy dan Prima, relawan KKS Melati, hari itu dikunjungi kupu-kupu sungguhan. Kupu-kupu itu hinggap dan menemaniku hingga sore hari. Aden, seorang relawan dari KKS Pelita Hati yang kebetulan mampir di standku, berujar ”wah ada kupu-kupu, tandanya stand ini beruntung. Insya alloh siapa tahu nanti ada sumbangan apa, gitu”. Hmmm semoga saja benar. 

Bicara tentang Aden, ia adalah salah seorang sahabat lama. Kami dulu adalah relawan di Kebun Binatang Ragunan. Aden kini giat mengembangkan minat baca dan tulis dengan menjadi relawan di KKS Pelita Hati. Disela-sela kami berbagi informasi tentang kegiatan komunitas kami, Aden berkata, ”Tadi ada orang mampir di stand gua. Lucunya dia tanya gini : apa bedanya KKS Pelita Hati dan KKS Melati? Gua bilang ajah gini : gak ada bedanya tuh, emang ada masalah?” 

Dari pengalaman bergaul dengan banyak komunitas, ada banyak friksi-friksi diantara komunitas tersebut. Ada pula anggapan bahwa dalam melakukan kerja-kerja diharapkan tidak berbenturan kepentingan. Berbeda dengan diskusiku dengan Aden, kami tidak pernah menganggap bahwa pekerjaan yang kami lakukan ini istimewa. Sama sekali tidak. Bahkan apapun yang kami lakukan ini boleh saja ditiru oleh komunitas lain. Jika mereka sudah melakukan yang sama, toh bangsa kita juga yang menikmati hasilnya. Lalu mengapa harus berselisih paham karena pekerjaan yang dilakukan adalah sama? 

Aden juga menawarkan buku-buku koleksi KKS Pelita Hati untuk dapat digunakan juga di KKS Melati. Kebetulan kami punya program yang sama, yaitu program Putar Buku. Tapi berbeda dengan KKS Pelita Hati dengan program Warung Bacaan Anak (WACANA) yang sudah merambah sampai ke Aceh, Maluku, Ambon dan kota lain selain Jakarta, bahkan tahun 2006 ini sedang membuat program WACANAnya di Papua, KKS Melati justru baru memulainya. Mungkin tidak besar, tapi kami melakukannya. Jadi apa salahnya jika kami bergandengan tangan? 

Siang menjelang sore, ada kunjungan dari seorang anak yang tuna netra. Usianya kira-kira 18 tahun. Ia dibimbing ibunya berjalan dari satu stand ke stand lainnya. Sang ibu sibuk menerangkan masing-masing stand kepadanya. Diajaknya ia menyentuh benda-benda yang ada disekeliling stand itu. Di Stand KKS Melati ia menyentuh layang-layang buatan anak-anak dan aku memberinya sebuah burung kertas origami hasil karya anak-anak di Melati Taman Baca. Aku tersentuh dengan cara sang ibu mengenalkan dunia ini kepada anak perempuannya, walaupun ia tuna netra. Sayang sekali stand KKS Melati tidak didesain untuk mereka yang tuna netra.

Isyu ini sebenarnya sudah lama disampaikan oleh Mitra Netra, sebuah yayasan yang standnya juga tidak jauh dari KKS Melati. Mitra Netra saat ini sedang membuat program 1000 buku untuk tuna netra. Dalam kunjunganku di stand Mitra Netra ini, Mbak Indah salah satu pengelola yayasan mengenalkan aku dengan program converting dari MS-Word ke program (aku lupa namanya) yang bisa mengkonversi program word menjadi tulisan braille, lalu kemudian di cetak dengan printer braille. Mbak Indah menjelaskan bahwa program converter itu dibuat bersama oleh Mitra Netra dan Binus. Indah sekali dunia ini karena jika banyak sekali relawan melakukan pengetikan buku cerita dalam MS-Word lalu dikirimkan ke Mitra Netra, maka akan ada banyak sekali buku-buku untuk teman-teman yang tuna netra. Sesederhana itu. Mbak Indah juga menawarkan KKS Melati untuk berkunjung ke Mitra Netra untuk melihat sendiri bagaimana para relawan bekerja merekam suara mereka dalam bentuk kaset yang nantinya akan menjadi buku suara. Luar biasa. 

Di sore hari, aku mendaftarkan KKS Melati untuk mengikuti program Buku Untuk Semua. Menurut informasi dari panitia, KKS Melati bisa mendapatkan buku-buku hasil pengumpulan buku teman-teman BiNus yang sudah memecahkan rekor MURI minggu lalu. Selain itu aku juga mendaftarkan KKS Melati menjadi Taman Bacaan Anggota Rolling CFTB Forum Indonesia Membaca. Mudah-mudahan dengan cara begini, buku-buku koleksi acara Putar Buku KKS Melati bisa bertambah banyak dan lebih banyak buku bisa dinikmati mereka yang membutuhkannya. [RN, 030306]

Rumah Pelangi : http://rumahpelangi.blogspot.com

Indonesia Membaca : www.indonesiamembaca.org

Mitra Netra : www.mitranetra.net

KKS Melati : www.kks-melati.org à siapa mau bantu wiko update web melati? J