Archive for May, 2006

Jurnal 24 : Winnie The Pooh dan Bahasa Inggris

Sunday, May 14th, 2006

Roo

Jurnal 24 : Winnie The Pooh dan Bahasa Inggris

Jakarta, 13/5/06. Menonton sambil belajar. Gabungan bermain dan belajar tentu sangat menyenangkan dan tidak terasa begitu banyak pelajaran yang hinggap di kepala.

***

Hari ini Melati Taman Baca  (MTB) tetap dibuka, walau tidak banyak relawan yang datang berkegiatan. Anak-anak yang singgah hari ini sengaja memilih sendiri kegiatannya. Sebagian memilih menggambar dengan tugas khusus di ruang dalam, sebagian membaca buku-buku yang sengaja aku ambil dari sebuah box baru, sebagian lagi memilih bermain dengan mainan yang tersedia di ruang depan, dan sebagian lagi yang masih berusia TK, menonton film di ruang tengah sambil menempeli stiker di belakang buku-buku MTB.

Winnie The Pooh adalah salah satu film kartun favoritku. Film yang aku pilih hari itu adalah sebuah film yang berjudul, A Springtime with Roo (2004).  Film ini bercerita tentang sebuah persahabatan dan sebuah pelajaran tentang menghargai orang lain.

Menonton sebuah film bersama anak-anak ternyata sangat menarik. Pertanyaan pertama yang muncul selain judul film adalah, "Kak, filmnya nggak ada yang bahasa Indonesia?" Barulah aku sadar jika selama ini koleksi film kartun di MTB seluruhnya adalah film-film berbahasa Inggris dengan sebagian subtitle berbahasa Indonesia. 

Selama ini, tidak terasa anak-anak selalu disajikan beragam film kartun yang selalu di dubbing ke dalam bahasa Indonesia. Sebut saja film kartun Franklin, Arnold, Detektif Conan, Sponge Bob, Dora The Explorer, Strawberry dan masih banyak lagi. Tidak jelas mengapa film dubbing menjadi kebiasaan di Indonesia, mungkin karena lebih mudah dimengerti oleh anak-anak.

Ketika aku masih SD, film kartun pada saat itu seluruhnya menggunakan bahasa Inggris, dengan subtitle bahasa Indonesia. Aku begitu terbiasa mendengarkan Woody Woodpecker, Popeye The Sailorman, Tom and Jerry, dan masih banyak lagi, dalam bahasa aslinya, bahkan aku belajar berbahasa Inggris dari film-film itu. Berbeda dengan saat ini, banyak anak-anak di MTB selalu menyanyikan “Aku Popay si Pelaut” ketimbang “I am Popeye the Sailorman”. Sepintas memang sama saja, tetapi telinga anak-anak menjadi begitu tidak terbiasa dengan istilah bahasa Inggris dan sulit menikmati film kartun berbahasa Inggris. Maka meskipun mereka tidak terlalu menangkap cerita Winnie yang aku putarkan, mereka tetap saja bisa menikmati gambarnya dan tertawa saat sang tokoh melucu.

Agar lebih terasa berkualitas, kali ini aku selipkan pelajaran bahasa Inggris selama proses menonton itu, meskipun sama sekali tidak mengganggu mereka menikmati tontonannya. Jadilah kami membahas warna-warna yang ada di film itu, tokoh-tokohnya, mengenali Piglet sebagai seekor babi (Pig), Tigger sebagai seekor Macan (Tiger), Rabbit sebagai seekor kelinci (Rabbit) dan Pooh Bear sebagai seekor beruang (Bear). Ada banyak sekali kata-kata bahasa Inggris yang dipelajari saat itu sambil menonton betapa lucunya Pooh di 100 Acre Wood itu.

Semoga apa yang dilakukan pada hari Sabtu ini memberikan pengalaman bergarga kepada anak-anak ini dan mereka bisa mengembangkan diri, tertarik lebih jauh untuk belajar bahasa Inggris melalui film yang mereka tonton. [RN, 150506].

Jika anda tertarik untuk mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak MTB, silahkan singgah di :

Melati Taman Baca

Jl. Ampera II No. 17A

RT 5 RW 9

Jakarta 12550

Setiap hari Sabtu dan Minggu jam 3-5 sore.

Http://www.kks-melati.org/web/index.php 

KKS Melati

Jurnal 23 : Liburan ke Pulau Mangir dan Peucang

Sunday, May 7th, 2006

Melakukan pekerjaan sosial tanpa melupakan liburan menyenangkan adalah salah satu hal yang paling disenangi oleh relawan KKS Melati. Segera setelah selesai melakukan kegiatan peresmian perpustakaan kedua di desa Tunggal Jaya, kami segera berkemas untuk bermalam di pulau yang pertama, Pulau Mangir.

***

Pulau Mangir letaknya berdekatan dengan Pulau Umang, Pulau Owar, dan Pulau Badur. Ditempuh dengan perjalanan kapal selama 1 jam, kamipun sampai kesana. Pulau Mangir adalah sebuah pulau kosong dan tidak banyak wisatawan yang singgah disini. Pulau ini dulunya adalah tempat bersarangnya berbagai jenis burung terutama jenis kalong yg bergantung pada dahan pohon. Saat ini memang masih banyak kalong di pulau ini tetapi rasanya tidak banyak suara burung yang kami dengar. Entah kenapa.

Di pulau ini kami bermalam dengan tenda. Ada 7 tenda seluruhnya yang dibangun oleh tim-gerak cepat”nya Pak Edi. Menurut Dessy, mereka adalah anak-anak SMA yang bekerja untuk AGM dan selama 3 hari itu sedang belajar untuk melakukan pelayanan bagi para tamu, sebuah pelajaran yang sangat baik untuk mengorganisasikan kegiatan kepariwisataaan. Mereka bekerja dengan luar biasa, mendirikan tenda, memasak untuk seluruh rombongan, mencari ikan untuk makan malam, dan bolak-balik mengantarkan kami dari kano ke kapal. Bagiku, mereka adalah sebuah tim yang sangat riang gembira dan bekerja dengan penuh semangat dan energi yang luar biasa.

Sementara tenda didirikan, sebagian relawan sibuk berenang, snorkling dan bermain air. Sebagian lagi pergi mencari sunset. Sebagian lagi sibuk mengumpulkan kayu bakar untuk api unggun. « wah pasti menyenangkan mendirikan api unggun di tepi pantai », pikirku.

Benar saja, begitu malam datang, kami makan malam sambil berkumpul mengelilingi api unggun, saling ngobrol dan mengenal lebih dalam. Kate tampak menikmati mengobrol dengan para relawan Melati dan kami benar-benar membuatnya tidak merasa asing meskipun kami bernyanyi dan mengobrol terlalu banyak dalam Bahasa Indonesia, sedangkan pengetahuan Bahasa  Indonesianya masih sangat terbatas.

Seusai api unggun padam, sebagian relawan ikut mencari ikan di laut. Mereka pergi ke bagan (germal) di tengah laut dan ada pula yang memancing dari kapal. Dua ekor anak hiu macan, satu ikan kakap dan satu ikan karang berhasil mereka bawa pulang. Aku percaya ini adalah pengalaman yang menyenangkan untuk mereka.

Pagi hari datang ditemani angin yang cukup kencang. Beberapa tenda rubuh karena deraan angin. Untunglah sudah pagi, sehingga kami tidak perlu mendirikan tenda lagi. Akhirnya dengan terpal seadanya kami duduk-duduk di tepi pantai, sambil menunggu sunrise. Teman-teman fotografer tidak kalah lincah memanfaatkan momen ini.

Begitu pagi sudah menjelang, makan pagipun siap. Kami segera menggulung tenda dan memasukkan kembali perlengkapan, kami bersiap pergi ke pulau yang jaraknya 2 jam dari pulau ini, Pulau Peucang.

Pulau Peucang adalah salah satu pulau yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), terletak di ujung bagian barat daya Pulau Jawa, termasuk dalam wilayah Kabupaten Pandeglang, Propinsi Banten. TNUK adalah kawasan yang ditetapkan menjadi situs warisan dunia (the world heritage site) oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini memiliki luas 122.956 hektar dan berada pada ketinggian antara 0 – 608 meter di atas permukaan laut (dpl), terdiri dari 3 tipe ekosistem yaitu perairan laut, pesisir pantai, dan daratan. Lebih dari 700 jenis tumbuhan terpelihara dengan baik di sini, termasuk 57 jenis tanaman langka. Disamping itu, TNUK juga merupakan ‘rumah’ dari jenis satwa langka seperti Banteng (Bos javanicus), Badak Jawa (Rhinocerus sondaicus), Lutung (Presbytis cristata), lutung (Trachypithecus auratus auratus), Gibon Jawa (Hylobates moloch), Anjing Hutan (Coun alpinus), Kucing Batu (Felis bengalensis), Harimau (Panthera trigis), Suruli (Presbity aygula) selain 270 jenis burung. Fauna tersebut merupakan sisa terakhir fauna asli hutan hujan datatan rendah di Jawa. Tak heran, TNUK juga kerap menjadi area penelitian flora dan fauna langka.

Peucang sendiri adalah sebuah pulau kecil di wilayah TNUK, mengambil nama dari sejenis siput yang sering ditemukan di pantainya. Penduduk setempat biasa menyebutnya ‘mata peucang’. Nama Peucang juga diambil dari nama sejenis rusa yang mendiami pulau ini. Untuk memasuki kawasan TNUK, setiap pendatang wajib membayar retribusi dan tiket wisata dengan harga relatif murah di kantor PHPA di Labuan. Namun kali ini saya beserta rombongan tak perlu memikirkan segala biaya itu karena sudah diurus Pak Edi dari AGM.

Kedatangan kami di dermaga Pulau Peucang pagi itu disambut kerumunan lutung (Trachypithecus auratus auratus) yang begitu riang berlompatan dan kawanan rusa (Cervus timorensis) yang berkeliaran di sekitar kantor pengelola TNUK Pulau Peucang. Berbeda dengan Pulau Mangir, di pulau ini tersedia wisma untuk menginap.

Pasir pantai Pulau Peucang berwarna putih dengan laut hijau muda kebiru-biruan. Warna biru lautnya sangat ideal untuk kegiatan berenang, menyelam, memancing, atau snorkeling. Begitu kami tiba, rasanya laut sudah memanggil-manggil kami untuk segera berenang. Marie yang sejak tadi sudah duduk di atas kapal segera terjun ke laut, disusul teman-teman lainnya.

Setelah puas berenang, snorkeling dan foto-foto, rombongan dibagi menjadi dua. Sebagian ingin berjalan-jalan ke dalam hutan, sebagian lagi ingin pergi melihat air terjun di Citerjun. Pak Ajat, jagawana yang sudah bekerja di Pulau Peucang selama 21 tahun menemani kami menyusuri hutan.

Hutan Pulau Peucang merupakan salah satu ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah. Flora di kawasan ini diantaranya merbau (Intsia bijuga), palahlar (Dipterocarpus haseltii), bungur (Lagerstroemia speciosa), cerlang (Pterospermum diversifolium), dan ki hujan (Engelhardia serrata).  Selain itu juga ada pohon Ficus atau kiara pencekik, tumbuhan parasit yang melilit pohon lain untuk hidup. Biasanya pohon inangnya akan mati jika ficusnya menjadi dewasa.

Di kedalaman hutan ini banyak sekali jejak babi hutan (Sus verrucosus). Kami juga menemukan sarang babi hutan yang baru saja melahirkan. Menurut Pak Ajat, seekor babi hutan dapat melahirkan enam ekor anak sekaligus. Sayangnya kami tidak diperbolehkan mendekati sarang itu karena dianggapnya terlalu berbahaya.

Tak terasa perjalanan kami sudah sampai 1 km. Sebenarnya ingin meneruskan perjalanan hingga ke Karang Copong yang katanya sangat indah di waktu sunset, tetapi karena terbatasnya waktu, terpaksa kami kembali lagi ke pantai. Kami kembali menembus hutan, menemui pohon-pohon tinggi, mengagumi untaian akar-akar raksasa lagi dan tentunya berfoto-foto lagi di tengah kerindangan pepohonan. Kami juga menemukan pohon mangga hutan, buahnya kecil-kecil dan rasanya agak asam. Marie sibuk mengambili buah mangga hutan yang berjatuhan untuk diberikan kepada para lutung.

Perjalanan pulang dari Pulau Peucang menuju Sumur sudah lewat tengah hari. Pak Edi pimpinan perjalanan hari ini mengatakan bahwa kapal tumpangan kami akan melawan ombak dan kami harus bersiap untuk berbasah ria selama perjalanan. Benar saja, Ombak besar siang itu terasa menggoyang seisi kapal. Meski basah kuyup terkena terpaan air laut dan mata terasa pedih, kami masih bisa menikmati keindahan pemandangan laut dan kepulauan disana lengkap dengan burung camar yang beterbangan mencari ikan di laut dan sejenis kupu-kupu aneh yang terbang bebas di laut lepas.[RN, 170406]

Jurnal 22 : Gudang Ilmu di Sumur

Sunday, May 7th, 2006

Sambil menyelam, minum air. Sambil berkegiatan sosial meresmikan dua buah perpustakaan desa, lalu berjalan-jalan ke

Taman

Nasional Ujung Kulon. Sungguh pengalaman wisata yang menyenangkan yang dilakukan oleh para relawan KKS Melati di pertengahan bulan April 2006 ini.

***

Day 1 : Pemberangkatan

Akhirnya 18 orang rombongan relawan KKS Melati dan relawan dari rumah singgah SEKAR yang telah berkumpul di Pintu 1 Senayan, berangkat dengan menggunakan bis pinjaman dari Departemen Kesehatan. Kami berangkat menuju Sumur, Kab Pandeglang dan berharap tiba disana sebelum jam 5 pagi keesokan harinya.

Tepat 15 menit menjelang pukul 5 pagi, kami tiba di kompleks AGM, sebuah LSM yang menyediakan tempat untuk kami menginap. Dua buah rumah bergaya alami di area lokasi pembuatan pupuk kompos telah siap digunakan untuk menginap bagi para relawan KKS Melati. 

Bersama AGM, Yayasan Pital, dan Copi e.v. inilah KKS Melati bekerja sama selama satu tahun dalam rangka pendirian dan pengelolaan Perpustakaan di SDN Sumberjaya 1 Desa Sumber Jaya dan SDN Cipining 1  Desa Taman Jaya, yang juga merupakan perpustakaan desa yang pertama di desa Sumber Jaya dan Taman Jaya. Kedua desa tersebut terletak di Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten. AGM, bersama Yayasan Pital, dan Copi e.v. akan menjadi fasilitator dan penghubung akses dan koordinasi dengan pihak sekolah, sementara KKS Melati akan menjadi alat penyedia sarana perpustakaan. Sedangkan buku-buku perpustakaan saat ini baru disediakan oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk sebanyak 1000 buku dan dari para donator lainnya, termasuk sumbangan dari para relawan KKS Melati.

Sesampainya disana, kami berkenalan dengan Pak Edi, pengurus harian AGM, Marie, seorang relawan dari Canada dan Kate, seorang relawan dari UK. Marie dan Kate saat ini sedang menjadi relawan dan bekerja untuk AGM. Mereka bertiga akan bergabung dengan kami selama berkegiatan disana.

Day 2 : Peresmian Perpustakaan di SD Sumber Jaya 1

SD Sumber Jaya 1 letaknya kurang lebih 1 km dari tempat kami menginap. Setelah sarapan pagi, kami berjalan kaki menuju ke lokasi. Setibanya disana, sudah banyak anak-anak kelas 3 yang bermain rebana menyambut kedatangan kami. Hari itu tanggal 14 April 2006 adalah hari libur nasional, karenanya tidak banyak anak-anak yang diminta datang ke sekolah. Hanya mereka yang rumahnya dekat dan hanya kelas 3 saja yang hadir di sekolah. Jumlahnyapun tidak begitu banyak, namun tidak mengurangi keceriaan kami bekerja dan berkegiatan disana.

Perpustakaan SDN Sumber Jaya 1 terletak satu ruangan dengan ruang guru. Ruangannya agak sempit dan buku-buku yang dipajang belum seluruhnya tersedia. “Kami sedang merapihkan ruangan ini,” ujar seorang guru,”buku-buku yang lebih mahal harganya seperti buku ensiklopaedia dan kamus belum kami pajang di rak.”

Walau letak perpustakaan ini berada di SDN Sumber Jaya 1, namun keberadaannya dapat digunakan untuk 2 buah sekolah yang kebetulan berada berdekatan yaitu SDN Sumber Jaya 2.  Perpustakaan ini dapat pula diakses oleh masyarakat sekitar, karena buku pertanian dan memasak yang disediakan di perpustakaan tersebut dapat pula dinikmati oleh para petani dan ibu-ibu rumah tangga, selain buku cerita dan ilmu pengetahuan yang memang disediakan untuk anak-anak.

Seusai acara pembukaan yang dimulai dengan serangkaian sambutan, Dindin, Baron, Roni dan Lendra lantas memimpin workshop kertas daur ulang. Pembuatan kertas daur ulang ini ternyata tidak hanya menarik anak-anak sekolah disana tetapi juga para guru. Banyak sekali pertanyaan yang menandakan antusiasme mereka. Setelah penjelasan tentang proses pembuatan kertas daur ulang dari bahan

baku

batang pisang, anak-anak langsung mempraktekkan sendiri proses pencetakan bubur kertas dan kemudian berlarian untuk menjemurnya di tengah lapangan.

Kegiatan origami dan menggambar dilakukan setelah kegiatan pembuatan kertas daur ulang selesai, karena sedikitnya jumlah anak-anaknya yang hadir. Kegiatan origami dipimpin Alip dan Swan. Bersama-sama mereka mengajarkan kertas origami menjadi bentuk bebek. Kegiatan ini sangat menarik dilakukan dan ada beberapa guru yang ikut belajar bersama-sama di kelas.  Seusai belajar origami, mereka pindah ke kelas lain untuk mengikuti kegiatan menggambar diatas kertas daur ulang, yang kali ini dipimpin Dessy dan Dina. Seusai menggambar, kegiatan ditutup dengan foto bersama murid-murid dengan para guru dan relawan, lalu kami kembali ke penginapan.

Day 3 : Peresmian Perpustakaan di SD Cipining/Tunggal Jaya 1

"Buku adalah gudang ilmu dan buku dapat dicari di perpustakaan", ujar Ayip Sutisna, Camat Sumur pada sambutannya di acara peresmian perpustakaan di desa Tunggal Jaya. Walau letak perpustakaan ini berada di SD Tunggal Jaya 1, namun keberadaannya dapat digunakan untuk 2 buah sekolah yang letaknya berdekatan yaitu SD Tunggal Jaya 1 dan 2.  Selain itu perpustakaan ini dapat pula dijadikan gudang ilmu bagi masyarakat sekitar, karena perpustakaan ini menyediakan buku-buku pertanian, perikanan dan memasak yang dapat dinikmati oleh para petani, nelayan dan ibu-ibu rumah tangga, selain buku cerita dan ilmu pengetahuan yang memang disediakan untuk anak-anak.

Gunawan selaku kepala sekolah Tunggal Jaya 1 menegaskan bahwa Perpustakaan tidak akan berjalan jika lingkungan sekitarnya tidak mendukung untuk berjalannya suatu perpustakaan. Ia menginginkan agar para guru dapat turut membaca dan ikut menyebarkan budaya membaca agar anak-anak tertular dan rajin membaca. Iapun meminta para guru untuk dapat melibatkan penggunaan perpustakaan dalam metode pengajaran  sehari-hari untuk menambah wawasan para siswa. Ayip, mantan kepala sekolah yang saat ini menjabat sebagai Camat, menambahkan bahwa sistem manajemen perpustakaan ini hendaknya diperbaiki sehingga buku-bukunya dapat terawat dan peminjaman buku dapat dikelola dengan baik.

Sejalan dengan pemikiran tersebut, bapak Kepala UPT Dinas Pendidikan Kab Pandeglang dalam sambutannya meminta para guru SD Tunggal Jaya 1 ini untuk dapat memanfaatkan perpustakaan sebaik-baiknya agar berguna bagi lingkungan desa. Jika sebelumnya akses terhadap buku pengetahuan sangat terbatas maka dengan kehadiran perpustakaan ini diharapkan adanya peningkatan pengetahuan para siswa dan juga para guru. Beliau juga menghimbau KKS Melati untuk dapat membuat satu perpustakaan lagi di desa Taman Jaya, yang letaknya sangat dekat dengan Taman Nasional Ujung Kulon, tetapi sangat minim dengan sarana pendidikan seperti perpustakaan.

Sambutan lain diantaranya dari Bapak Pulung S Sang Kepala desa Tunggal Jaya, Bapak ketua komite sekolah SD Tunggal Jaya 1 dan 2, Bapak Edi mewakili pihak AGM dan Fridessy relawan KKS Melati sama-sama menekankan bahwa keberadaan sekolah ini selayaknya juga dapat membantu para murid, guru dan masyarakat untuk bersama-sama mengelola dan memanfaatkan keberadaannya.

Setelah sambutan yang begitu panjang, kegiatan lantas dipecah menjadi beberapa pusat kegiatan. anak-anak kelas 1 berkumpul di ruang perpustakaan untuk mendengarkan dongeng dari Dina, salah seorang relawan KKS Melati, dibantu Meina dan Rini, sedang anak-anak kelas 2 dan 3 mengikuti kegiatan origami, dipandu Arie Bks dan Alip, relawan KKS Melati. Untuk anak-anak kelas 4-6 bergabung dengan relawan dari rumah singgah SEKAR dipimpin Dindin, Baron, Roni dan Lendra belajar tentang pembuatan kertas daur ulang.

Berbeda dengan perpustakaan di SDN Sumber Jaya 1 yang letaknya di ruang guru, Ruang perpustakaan di SDN Tunggal Jaya 1 letaknya disebuah ruangan khusus yang diberi nama “Ruang Perpustakaan”. Ruangan ini semula adalah ruang serbaguna yang digunakan untuk olahraga. Saat ini ruangan yang seluas 7 x 7 m ini terpaksa dibagi dua.  Menempati setengah ruangan, perpustakaan ini masih terlalu sempit. Dengan peralatan yang sudah disediakan oleh KKS Melati, seperti alas untuk duduk, bantal-bantal lantai dan meja pendek untuk membaca, tampaknya ruangan yang sempit ini memang nyaman walaupun terkesan sangat lembab. Kelembaban memang terasa di ruangan ini. Rak-rak buku yang baru saja dibeli 2 bulan yang lalu, sudah ternoda oleh jamur. Kalau tidak sering dibersihkan, rasanya buku-buku disana akan cepat rusak dimakan jamur dan rak bukunya pun tidak akan tahan lama karena terbuat dari partikel board.

Tiga jam berlalu dengan cepat sampai akhirnya kami tiba di penghujung acara, yaitu acara foto bersama di depan ruang perpustakaan.

Ini bukan akhir, tetapi awal sebuah perjalanan panjang bagi penduduk desa untuk dapat memanfaatkan buku sebagai jendela pengetahuan yang tidak berbatas. [RN, 170406]