Jurnal 22 : Gudang Ilmu di Sumur
Sambil menyelam, minum air. Sambil berkegiatan sosial meresmikan dua buah perpustakaan desa, lalu berjalan-jalan ke
Taman
Nasional Ujung Kulon. Sungguh pengalaman wisata yang menyenangkan yang dilakukan oleh para relawan KKS Melati di pertengahan bulan April 2006 ini.
***
Day 1 : Pemberangkatan
Akhirnya 18 orang rombongan relawan KKS Melati dan relawan dari rumah singgah SEKAR yang telah berkumpul di Pintu 1 Senayan, berangkat dengan menggunakan bis pinjaman dari Departemen Kesehatan. Kami berangkat menuju Sumur, Kab Pandeglang dan berharap tiba disana sebelum jam 5 pagi keesokan harinya.
Tepat 15 menit menjelang pukul 5 pagi, kami tiba di kompleks AGM, sebuah LSM yang menyediakan tempat untuk kami menginap. Dua buah rumah bergaya alami di area lokasi pembuatan pupuk kompos telah siap digunakan untuk menginap bagi para relawan KKS Melati.
Bersama AGM, Yayasan Pital, dan Copi e.v. inilah KKS Melati bekerja sama selama satu tahun dalam rangka pendirian dan pengelolaan Perpustakaan di SDN Sumberjaya 1 Desa Sumber Jaya dan SDN Cipining 1 Desa Taman Jaya, yang juga merupakan perpustakaan desa yang pertama di desa Sumber Jaya dan Taman Jaya. Kedua desa tersebut terletak di Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten. AGM, bersama Yayasan Pital, dan Copi e.v. akan menjadi fasilitator dan penghubung akses dan koordinasi dengan pihak sekolah, sementara KKS Melati akan menjadi alat penyedia sarana perpustakaan. Sedangkan buku-buku perpustakaan saat ini baru disediakan oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk sebanyak 1000 buku dan dari para donator lainnya, termasuk sumbangan dari para relawan KKS Melati.
Sesampainya disana, kami berkenalan dengan Pak Edi, pengurus harian AGM, Marie, seorang relawan dari Canada dan Kate, seorang relawan dari UK. Marie dan Kate saat ini sedang menjadi relawan dan bekerja untuk AGM. Mereka bertiga akan bergabung dengan kami selama berkegiatan disana.
Day 2 : Peresmian Perpustakaan di SD Sumber Jaya 1
SD Sumber Jaya 1 letaknya kurang lebih 1 km dari tempat kami menginap. Setelah sarapan pagi, kami berjalan kaki menuju ke lokasi. Setibanya disana, sudah banyak anak-anak kelas 3 yang bermain rebana menyambut kedatangan kami. Hari itu tanggal 14 April 2006 adalah hari libur nasional, karenanya tidak banyak anak-anak yang diminta datang ke sekolah. Hanya mereka yang rumahnya dekat dan hanya kelas 3 saja yang hadir di sekolah. Jumlahnyapun tidak begitu banyak, namun tidak mengurangi keceriaan kami bekerja dan berkegiatan disana.
Perpustakaan SDN Sumber Jaya 1 terletak satu ruangan dengan ruang guru. Ruangannya agak sempit dan buku-buku yang dipajang belum seluruhnya tersedia. “Kami sedang merapihkan ruangan ini,” ujar seorang guru,”buku-buku yang lebih mahal harganya seperti buku ensiklopaedia dan kamus belum kami pajang di rak.”
Walau letak perpustakaan ini berada di SDN Sumber Jaya 1, namun keberadaannya dapat digunakan untuk 2 buah sekolah yang kebetulan berada berdekatan yaitu SDN Sumber Jaya 2. Perpustakaan ini dapat pula diakses oleh masyarakat sekitar, karena buku pertanian dan memasak yang disediakan di perpustakaan tersebut dapat pula dinikmati oleh para petani dan ibu-ibu rumah tangga, selain buku cerita dan ilmu pengetahuan yang memang disediakan untuk anak-anak.
Seusai acara pembukaan yang dimulai dengan serangkaian sambutan, Dindin, Baron, Roni dan Lendra lantas memimpin workshop kertas daur ulang. Pembuatan kertas daur ulang ini ternyata tidak hanya menarik anak-anak sekolah disana tetapi juga para guru. Banyak sekali pertanyaan yang menandakan antusiasme mereka. Setelah penjelasan tentang proses pembuatan kertas daur ulang dari bahan
baku
batang pisang, anak-anak langsung mempraktekkan sendiri proses pencetakan bubur kertas dan kemudian berlarian untuk menjemurnya di tengah lapangan.
Kegiatan origami dan menggambar dilakukan setelah kegiatan pembuatan kertas daur ulang selesai, karena sedikitnya jumlah anak-anaknya yang hadir. Kegiatan origami dipimpin Alip dan Swan. Bersama-sama mereka mengajarkan kertas origami menjadi bentuk bebek. Kegiatan ini sangat menarik dilakukan dan ada beberapa guru yang ikut belajar bersama-sama di kelas. Seusai belajar origami, mereka pindah ke kelas lain untuk mengikuti kegiatan menggambar diatas kertas daur ulang, yang kali ini dipimpin Dessy dan Dina. Seusai menggambar, kegiatan ditutup dengan foto bersama murid-murid dengan para guru dan relawan, lalu kami kembali ke penginapan.
Day 3 : Peresmian Perpustakaan di SD Cipining/Tunggal Jaya 1
"Buku adalah gudang ilmu dan buku dapat dicari di perpustakaan", ujar Ayip Sutisna, Camat Sumur pada sambutannya di acara peresmian perpustakaan di desa Tunggal Jaya. Walau letak perpustakaan ini berada di SD Tunggal Jaya 1, namun keberadaannya dapat digunakan untuk 2 buah sekolah yang letaknya berdekatan yaitu SD Tunggal Jaya 1 dan 2. Selain itu perpustakaan ini dapat pula dijadikan gudang ilmu bagi masyarakat sekitar, karena perpustakaan ini menyediakan buku-buku pertanian, perikanan dan memasak yang dapat dinikmati oleh para petani, nelayan dan ibu-ibu rumah tangga, selain buku cerita dan ilmu pengetahuan yang memang disediakan untuk anak-anak.
Gunawan selaku kepala sekolah Tunggal Jaya 1 menegaskan bahwa Perpustakaan tidak akan berjalan jika lingkungan sekitarnya tidak mendukung untuk berjalannya suatu perpustakaan. Ia menginginkan agar para guru dapat turut membaca dan ikut menyebarkan budaya membaca agar anak-anak tertular dan rajin membaca. Iapun meminta para guru untuk dapat melibatkan penggunaan perpustakaan dalam metode pengajaran sehari-hari untuk menambah wawasan para siswa. Ayip, mantan kepala sekolah yang saat ini menjabat sebagai Camat, menambahkan bahwa sistem manajemen perpustakaan ini hendaknya diperbaiki sehingga buku-bukunya dapat terawat dan peminjaman buku dapat dikelola dengan baik.
Sejalan dengan pemikiran tersebut, bapak Kepala UPT Dinas Pendidikan Kab Pandeglang dalam sambutannya meminta para guru SD Tunggal Jaya 1 ini untuk dapat memanfaatkan perpustakaan sebaik-baiknya agar berguna bagi lingkungan desa. Jika sebelumnya akses terhadap buku pengetahuan sangat terbatas maka dengan kehadiran perpustakaan ini diharapkan adanya peningkatan pengetahuan para siswa dan juga para guru. Beliau juga menghimbau KKS Melati untuk dapat membuat satu perpustakaan lagi di desa Taman Jaya, yang letaknya sangat dekat dengan Taman Nasional Ujung Kulon, tetapi sangat minim dengan sarana pendidikan seperti perpustakaan.
Sambutan lain diantaranya dari Bapak Pulung S Sang Kepala desa Tunggal Jaya, Bapak ketua komite sekolah SD Tunggal Jaya 1 dan 2, Bapak Edi mewakili pihak AGM dan Fridessy relawan KKS Melati sama-sama menekankan bahwa keberadaan sekolah ini selayaknya juga dapat membantu para murid, guru dan masyarakat untuk bersama-sama mengelola dan memanfaatkan keberadaannya.
Setelah sambutan yang begitu panjang, kegiatan lantas dipecah menjadi beberapa pusat kegiatan. anak-anak kelas 1 berkumpul di ruang perpustakaan untuk mendengarkan dongeng dari Dina, salah seorang relawan KKS Melati, dibantu Meina dan Rini, sedang anak-anak kelas 2 dan 3 mengikuti kegiatan origami, dipandu Arie Bks dan Alip, relawan KKS Melati. Untuk anak-anak kelas 4-6 bergabung dengan relawan dari rumah singgah SEKAR dipimpin Dindin, Baron, Roni dan Lendra belajar tentang pembuatan kertas daur ulang.
Berbeda dengan perpustakaan di SDN Sumber Jaya 1 yang letaknya di ruang guru, Ruang perpustakaan di SDN Tunggal Jaya 1 letaknya disebuah ruangan khusus yang diberi nama “Ruang Perpustakaan”. Ruangan ini semula adalah ruang serbaguna yang digunakan untuk olahraga. Saat ini ruangan yang seluas 7 x 7 m ini terpaksa dibagi dua. Menempati setengah ruangan, perpustakaan ini masih terlalu sempit. Dengan peralatan yang sudah disediakan oleh KKS Melati, seperti alas untuk duduk, bantal-bantal lantai dan meja pendek untuk membaca, tampaknya ruangan yang sempit ini memang nyaman walaupun terkesan sangat lembab. Kelembaban memang terasa di ruangan ini. Rak-rak buku yang baru saja dibeli 2 bulan yang lalu, sudah ternoda oleh jamur. Kalau tidak sering dibersihkan, rasanya buku-buku disana akan cepat rusak dimakan jamur dan rak bukunya pun tidak akan tahan lama karena terbuat dari partikel board.
Tiga jam berlalu dengan cepat sampai akhirnya kami tiba di penghujung acara, yaitu acara foto bersama di depan ruang perpustakaan.
Ini bukan akhir, tetapi awal sebuah perjalanan panjang bagi penduduk desa untuk dapat memanfaatkan buku sebagai jendela pengetahuan yang tidak berbatas. [RN, 170406]