Jurnal 24 : Ayo, Kemping!

July 6th, 2006 by kksmelati

Masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, seluruh relawan diperkenankan untuk terlibat secara langsung dan tidak hanya sebatas memberi sumbangan saja, tetapi juga ikut melihat, berinteraksi dan bersentuhan secara langsung dengan kehidupan anak-anak dhuafa dan anak jalanan, dengan begitu seluruh relawan dapat berempati, mengetahui dan mendengar cerita langsung dari mereka atau bahkan merasakan apa yang mereka lakukan setiap harinya, mengasah nurani untuk lebih peka terhadap lingkungan.

Secara garis besar, acara “Ayo Kemping!” Tahun ini membawa anak-anak dhuafa dan anak jalanan ke Wana Wisata Cilember, Cisarua. Wana Wisata Cilember, letaknya +/- 10 km dari pintu tol gadog (jagorawi) menuju puncak cisarua. Lokasi yang sejuk (suhu 18º - 26º C) dikelilingi hutan pinus. Disana anak dhuafa dan anak jalanan akan dapat merasakan hawa pegunungan yang segar dan sekaligus menikmati keindahan dan keunikan air terjun atau curug yang berjumlah 7 buah.

Sebagai anak dhuafa dan anak jalanan, tidak banyak kesempatan untuk belajar di luar lingkungan mereka. Oleh karenanya, wisata ke lokasi yang berbeda dengan lingkungan dimana mereka berada, sangatlah berguna untuk menambah wawasan dan pengetahuan mereka tentang kekayaan alam.

***

Sejak pertama kali rencana outing ini dilempar, berbagai pendapat pro dan kontra pun bertebaran. Ada yang mengatakan bahwa terlalu riskan mengadakan kegiatan kemping dengan membawa banyak anak-anak dan menginap. Pendapat lain mengatakan bahwa akan terlalu banyak usaha yang dikeluarkan oleh para relawan, disamping tentunya ada wacana dan tantangan tersendiri untuk pencarian relawan pendamping yang akan mendampingi 20 kelompok peserta, dimana relawan pendamping ini sebaiknya memiliki ”kemampuan” khusus seperti pengalaman berpetualang di hutan.

Awalnya, ada dua alternatif tujuan outing. Pertama, pergi mengunjungi Kebun Binatang Ragunan dan alternatif kedua, ke Wana Wisata Curug Cilember. Rini sang komandan untuk acara ini akhirnya memutuskan untuk melakukan kegiatan kemping ke Curug Cilember. Keputusan yang diambil ini merupakan salah satu hasil musyawarah dan mufakat relawan KKS Melati. Akhirnya, secara bertahap sebuah tim kecil membuat konsep outing yang diinginkan.

Tantangan dalam mewujudkan acara ini terus berdatangan, namun merupakan hal yang harus dilalui selama masa persiapan. Proposal yang disebar tidak semuanya mendapatkan tanggapan yang positif. Belum lagi ketika ada bencana gempa yang mengguncang Yogyakarta, yang secara tidak langsung turut memberikan dampak terhadap proses pencarian dana dan donasi. Beruntung semua hal diatas ini tak pernah menjadi kendala, semua halangan dan rintangan menjadi sebuah tantangan manis yang harus dilalui. Beberapa ide relawan pun bermunculan, mulai dari berjualan pouch handphone, baju bekas, koran bekas, majalah, flash disk, atau mengadakan perjalanan dan berbagai kegiatan fundraising lainnya, dilakukan. Membatalkan acara ini dan mengecewakan anak-anak dhuafa dan anak jalanan itu tak pernah menjadi sebuah pilihan. Sudah lebih dari tiga bulan sebelum pelaksanaan, para relawan mempersiapkan acara ini. Setiap minggunya, melalui kakak pembina di rumah belajar anak jalanan, anak-anak yang telah terdaftar terus menanyakan kelanjutan dari persiapan acara ini. Merekalah yang menjadi pendorong kami untuk terus memberikan yang terbaik bagi berlangsungnya kegiatan ini.

Kegiatan ”Ayo, Kemping!” ini akhirnya banyak sekali mendapatkan bantuan. Sahabat-sahabat baik pun berdatangan. Kami mendapatkan rekanan sebuah provider outbound professional (www.provisiconsulting.com) yang berkenan memberikan sekitar 10 permainan kerjasama kelompok yang tidak terlupakan untuk adik-adik peserta kegiatan ini tanpa dipungut biaya, berbagai tambahan acara diantaranya menggambar interaktif dari Sahabat Telapak (www.telapak.org), makanan dan minuman yang berlimpah - donasi dari PT Sinar Sosro dan beberapa donatur lainnya, sumbangan buku tulis dan peralatan tulis dan relawan-relawan tangguh yang bahu membahu membantu mewujudkan semuanya. Anak-anak pun terlihat bahagia, bahkan sejak mereka menapakkan jejak mereka pertama kali ke tempat ini. Antusiasme mereka terlihat dengan beragam pertanyaan yang diajukan kepada para relawan pendamping mereka.

Provisi yang mengawali petualangan mereka dengan bermain, bernyanyi dan menari, setelah itu disambung dengan acara menggambar interaktif bersama rekan-rekan dari Sahabat Telapak. Mereka memandu anak-anak untuk menggambar mengenai alam dan pelestariannya. Anak-anak bertambah antusias karena 10 gambar terbaik akan di cetak diatas mug dan akan dikirimkan kepada mereka sepulangnya dari kegiatan ini. Usai shalat dan istirahat makan siang, mereka dibagi menjadi dua kelompok besar, satu kelompok yang terdiri dari 10 kelompok anak-anak mendapat giliran untuk trekking ke curug 5 dan lainnya melakukan permainan outbound. Semua bersemangat, semua bergembira. Waktu yang diberikan oleh panitia ternyata lebih dari cukup, banyak anak-anak yang mendapat kesempatan trekking malahan bertanya mereka akan bermain apalagi setelah ini. Kebanyakan justru relawan pendamping yang menyerah ketika jalan mulai mendaki dan menurun.

Permainan outbound juga sama menyenangkannya. Anak-anak diajak bermain sambil melatih kemampuan kerjasama kelompok mereka. Spider web, Menyelamatkan diri dari lahar, memasukkan kayu ke dalam botol, memindahkan bola dengan bambu, adalah beberapa diantara kegiatannya. Sore hari di cilember juga tak kalah menarik, bersama anak-anak jalanan itu, kami memeriahkan sore dengan bernyanyi bersama, saling bersautan, dengan iringan gitar dari Deni salah seorang anak jalanan dari Rumah Belajar Anak Jalanan Yayasan Sekar. Sayangnya semua lagu yang mereka bawakan adalah lagu-lagu dewasa bukan lagu anak-anak.

Bersamaan dengan Program Outing ini juga dilakukan kegiatan Putar Buku ke-2, dimana setiap rumah singgah membawa boks buku yang tiga bulan sebelumnya telah didrop oleh KKS Melati, untuk ditukar. Putar buku dilakukan di area bermain, sebuah pojok membaca lengkap dengan buku cerita dan mainan untuk digunakan selama program outing berlangsung. Pojok buku ini juga menjadi tempat favorit bagi anak-anak yang kelelahan setelah mengikuti berbagai permainan kelompok.

Siang hari sebelum pulang, anak-anak dihibur dengan aneka dongeng berhadiah menarik. Arie, salah seorang relawan KKS Melati membawakan beberapa dongeng dan memberikan pertanyaan kepada anak-anak yang mendengarkan dongengnya. Beragam hadiahpun dibagikan bagi mereka yang dapat menjawab pertanyaan dengan benar.

Pada malam hari, diantara api unggun yang menyala, kami mengadakan pertunjukan dari masing-masing rumah singgah. Ada yang bernyanyi, berpuisi, operet bahkan seorang relawan yang juga menjadi relawan pengambil gambar itu pun ikutan bersuara, membacakan beberapa puisi dari sebuah buku puisi anak yang berumur hampir 35 tahunan.

Kemping di curug Cilember, adalah sebuah pengalaman yang bisa diambil banyak hikmahnya. Hanya cinta dan keinginan untuk berbagi dari masing-masing relawan, yang mendorong keberhasilan acara ini. Semua rintangan tak pernah menjadi halangan, bahkan ketika rintangan itu memasuki detik-detik terakhir pelaksanaan. Tuhan memang bekerja dengan caraNya, keajaiban selalu datang pada waktunya dan sekali lagi sebuah syukur terpanjatkan karena telah berhasil memberikan sebuah pengalaman kepada anak-anak yang kurang mendapat kesempatan. [V &RN, 030706]

Jurnal 24 : Winnie The Pooh dan Bahasa Inggris

May 14th, 2006 by kksmelati

Roo

Jurnal 24 : Winnie The Pooh dan Bahasa Inggris

Jakarta, 13/5/06. Menonton sambil belajar. Gabungan bermain dan belajar tentu sangat menyenangkan dan tidak terasa begitu banyak pelajaran yang hinggap di kepala.

***

Hari ini Melati Taman Baca  (MTB) tetap dibuka, walau tidak banyak relawan yang datang berkegiatan. Anak-anak yang singgah hari ini sengaja memilih sendiri kegiatannya. Sebagian memilih menggambar dengan tugas khusus di ruang dalam, sebagian membaca buku-buku yang sengaja aku ambil dari sebuah box baru, sebagian lagi memilih bermain dengan mainan yang tersedia di ruang depan, dan sebagian lagi yang masih berusia TK, menonton film di ruang tengah sambil menempeli stiker di belakang buku-buku MTB.

Winnie The Pooh adalah salah satu film kartun favoritku. Film yang aku pilih hari itu adalah sebuah film yang berjudul, A Springtime with Roo (2004).  Film ini bercerita tentang sebuah persahabatan dan sebuah pelajaran tentang menghargai orang lain.

Menonton sebuah film bersama anak-anak ternyata sangat menarik. Pertanyaan pertama yang muncul selain judul film adalah, "Kak, filmnya nggak ada yang bahasa Indonesia?" Barulah aku sadar jika selama ini koleksi film kartun di MTB seluruhnya adalah film-film berbahasa Inggris dengan sebagian subtitle berbahasa Indonesia. 

Selama ini, tidak terasa anak-anak selalu disajikan beragam film kartun yang selalu di dubbing ke dalam bahasa Indonesia. Sebut saja film kartun Franklin, Arnold, Detektif Conan, Sponge Bob, Dora The Explorer, Strawberry dan masih banyak lagi. Tidak jelas mengapa film dubbing menjadi kebiasaan di Indonesia, mungkin karena lebih mudah dimengerti oleh anak-anak.

Ketika aku masih SD, film kartun pada saat itu seluruhnya menggunakan bahasa Inggris, dengan subtitle bahasa Indonesia. Aku begitu terbiasa mendengarkan Woody Woodpecker, Popeye The Sailorman, Tom and Jerry, dan masih banyak lagi, dalam bahasa aslinya, bahkan aku belajar berbahasa Inggris dari film-film itu. Berbeda dengan saat ini, banyak anak-anak di MTB selalu menyanyikan “Aku Popay si Pelaut” ketimbang “I am Popeye the Sailorman”. Sepintas memang sama saja, tetapi telinga anak-anak menjadi begitu tidak terbiasa dengan istilah bahasa Inggris dan sulit menikmati film kartun berbahasa Inggris. Maka meskipun mereka tidak terlalu menangkap cerita Winnie yang aku putarkan, mereka tetap saja bisa menikmati gambarnya dan tertawa saat sang tokoh melucu.

Agar lebih terasa berkualitas, kali ini aku selipkan pelajaran bahasa Inggris selama proses menonton itu, meskipun sama sekali tidak mengganggu mereka menikmati tontonannya. Jadilah kami membahas warna-warna yang ada di film itu, tokoh-tokohnya, mengenali Piglet sebagai seekor babi (Pig), Tigger sebagai seekor Macan (Tiger), Rabbit sebagai seekor kelinci (Rabbit) dan Pooh Bear sebagai seekor beruang (Bear). Ada banyak sekali kata-kata bahasa Inggris yang dipelajari saat itu sambil menonton betapa lucunya Pooh di 100 Acre Wood itu.

Semoga apa yang dilakukan pada hari Sabtu ini memberikan pengalaman bergarga kepada anak-anak ini dan mereka bisa mengembangkan diri, tertarik lebih jauh untuk belajar bahasa Inggris melalui film yang mereka tonton. [RN, 150506].

Jika anda tertarik untuk mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak MTB, silahkan singgah di :

Melati Taman Baca

Jl. Ampera II No. 17A

RT 5 RW 9

Jakarta 12550

Setiap hari Sabtu dan Minggu jam 3-5 sore.

Http://www.kks-melati.org/web/index.php 

KKS Melati

Jurnal 23 : Liburan ke Pulau Mangir dan Peucang

May 7th, 2006 by kksmelati

Melakukan pekerjaan sosial tanpa melupakan liburan menyenangkan adalah salah satu hal yang paling disenangi oleh relawan KKS Melati. Segera setelah selesai melakukan kegiatan peresmian perpustakaan kedua di desa Tunggal Jaya, kami segera berkemas untuk bermalam di pulau yang pertama, Pulau Mangir.

***

Pulau Mangir letaknya berdekatan dengan Pulau Umang, Pulau Owar, dan Pulau Badur. Ditempuh dengan perjalanan kapal selama 1 jam, kamipun sampai kesana. Pulau Mangir adalah sebuah pulau kosong dan tidak banyak wisatawan yang singgah disini. Pulau ini dulunya adalah tempat bersarangnya berbagai jenis burung terutama jenis kalong yg bergantung pada dahan pohon. Saat ini memang masih banyak kalong di pulau ini tetapi rasanya tidak banyak suara burung yang kami dengar. Entah kenapa.

Di pulau ini kami bermalam dengan tenda. Ada 7 tenda seluruhnya yang dibangun oleh tim-gerak cepat”nya Pak Edi. Menurut Dessy, mereka adalah anak-anak SMA yang bekerja untuk AGM dan selama 3 hari itu sedang belajar untuk melakukan pelayanan bagi para tamu, sebuah pelajaran yang sangat baik untuk mengorganisasikan kegiatan kepariwisataaan. Mereka bekerja dengan luar biasa, mendirikan tenda, memasak untuk seluruh rombongan, mencari ikan untuk makan malam, dan bolak-balik mengantarkan kami dari kano ke kapal. Bagiku, mereka adalah sebuah tim yang sangat riang gembira dan bekerja dengan penuh semangat dan energi yang luar biasa.

Sementara tenda didirikan, sebagian relawan sibuk berenang, snorkling dan bermain air. Sebagian lagi pergi mencari sunset. Sebagian lagi sibuk mengumpulkan kayu bakar untuk api unggun. « wah pasti menyenangkan mendirikan api unggun di tepi pantai », pikirku.

Benar saja, begitu malam datang, kami makan malam sambil berkumpul mengelilingi api unggun, saling ngobrol dan mengenal lebih dalam. Kate tampak menikmati mengobrol dengan para relawan Melati dan kami benar-benar membuatnya tidak merasa asing meskipun kami bernyanyi dan mengobrol terlalu banyak dalam Bahasa Indonesia, sedangkan pengetahuan Bahasa  Indonesianya masih sangat terbatas.

Seusai api unggun padam, sebagian relawan ikut mencari ikan di laut. Mereka pergi ke bagan (germal) di tengah laut dan ada pula yang memancing dari kapal. Dua ekor anak hiu macan, satu ikan kakap dan satu ikan karang berhasil mereka bawa pulang. Aku percaya ini adalah pengalaman yang menyenangkan untuk mereka.

Pagi hari datang ditemani angin yang cukup kencang. Beberapa tenda rubuh karena deraan angin. Untunglah sudah pagi, sehingga kami tidak perlu mendirikan tenda lagi. Akhirnya dengan terpal seadanya kami duduk-duduk di tepi pantai, sambil menunggu sunrise. Teman-teman fotografer tidak kalah lincah memanfaatkan momen ini.

Begitu pagi sudah menjelang, makan pagipun siap. Kami segera menggulung tenda dan memasukkan kembali perlengkapan, kami bersiap pergi ke pulau yang jaraknya 2 jam dari pulau ini, Pulau Peucang.

Pulau Peucang adalah salah satu pulau yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), terletak di ujung bagian barat daya Pulau Jawa, termasuk dalam wilayah Kabupaten Pandeglang, Propinsi Banten. TNUK adalah kawasan yang ditetapkan menjadi situs warisan dunia (the world heritage site) oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini memiliki luas 122.956 hektar dan berada pada ketinggian antara 0 – 608 meter di atas permukaan laut (dpl), terdiri dari 3 tipe ekosistem yaitu perairan laut, pesisir pantai, dan daratan. Lebih dari 700 jenis tumbuhan terpelihara dengan baik di sini, termasuk 57 jenis tanaman langka. Disamping itu, TNUK juga merupakan ‘rumah’ dari jenis satwa langka seperti Banteng (Bos javanicus), Badak Jawa (Rhinocerus sondaicus), Lutung (Presbytis cristata), lutung (Trachypithecus auratus auratus), Gibon Jawa (Hylobates moloch), Anjing Hutan (Coun alpinus), Kucing Batu (Felis bengalensis), Harimau (Panthera trigis), Suruli (Presbity aygula) selain 270 jenis burung. Fauna tersebut merupakan sisa terakhir fauna asli hutan hujan datatan rendah di Jawa. Tak heran, TNUK juga kerap menjadi area penelitian flora dan fauna langka.

Peucang sendiri adalah sebuah pulau kecil di wilayah TNUK, mengambil nama dari sejenis siput yang sering ditemukan di pantainya. Penduduk setempat biasa menyebutnya ‘mata peucang’. Nama Peucang juga diambil dari nama sejenis rusa yang mendiami pulau ini. Untuk memasuki kawasan TNUK, setiap pendatang wajib membayar retribusi dan tiket wisata dengan harga relatif murah di kantor PHPA di Labuan. Namun kali ini saya beserta rombongan tak perlu memikirkan segala biaya itu karena sudah diurus Pak Edi dari AGM.

Kedatangan kami di dermaga Pulau Peucang pagi itu disambut kerumunan lutung (Trachypithecus auratus auratus) yang begitu riang berlompatan dan kawanan rusa (Cervus timorensis) yang berkeliaran di sekitar kantor pengelola TNUK Pulau Peucang. Berbeda dengan Pulau Mangir, di pulau ini tersedia wisma untuk menginap.

Pasir pantai Pulau Peucang berwarna putih dengan laut hijau muda kebiru-biruan. Warna biru lautnya sangat ideal untuk kegiatan berenang, menyelam, memancing, atau snorkeling. Begitu kami tiba, rasanya laut sudah memanggil-manggil kami untuk segera berenang. Marie yang sejak tadi sudah duduk di atas kapal segera terjun ke laut, disusul teman-teman lainnya.

Setelah puas berenang, snorkeling dan foto-foto, rombongan dibagi menjadi dua. Sebagian ingin berjalan-jalan ke dalam hutan, sebagian lagi ingin pergi melihat air terjun di Citerjun. Pak Ajat, jagawana yang sudah bekerja di Pulau Peucang selama 21 tahun menemani kami menyusuri hutan.

Hutan Pulau Peucang merupakan salah satu ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah. Flora di kawasan ini diantaranya merbau (Intsia bijuga), palahlar (Dipterocarpus haseltii), bungur (Lagerstroemia speciosa), cerlang (Pterospermum diversifolium), dan ki hujan (Engelhardia serrata).  Selain itu juga ada pohon Ficus atau kiara pencekik, tumbuhan parasit yang melilit pohon lain untuk hidup. Biasanya pohon inangnya akan mati jika ficusnya menjadi dewasa.

Di kedalaman hutan ini banyak sekali jejak babi hutan (Sus verrucosus). Kami juga menemukan sarang babi hutan yang baru saja melahirkan. Menurut Pak Ajat, seekor babi hutan dapat melahirkan enam ekor anak sekaligus. Sayangnya kami tidak diperbolehkan mendekati sarang itu karena dianggapnya terlalu berbahaya.

Tak terasa perjalanan kami sudah sampai 1 km. Sebenarnya ingin meneruskan perjalanan hingga ke Karang Copong yang katanya sangat indah di waktu sunset, tetapi karena terbatasnya waktu, terpaksa kami kembali lagi ke pantai. Kami kembali menembus hutan, menemui pohon-pohon tinggi, mengagumi untaian akar-akar raksasa lagi dan tentunya berfoto-foto lagi di tengah kerindangan pepohonan. Kami juga menemukan pohon mangga hutan, buahnya kecil-kecil dan rasanya agak asam. Marie sibuk mengambili buah mangga hutan yang berjatuhan untuk diberikan kepada para lutung.

Perjalanan pulang dari Pulau Peucang menuju Sumur sudah lewat tengah hari. Pak Edi pimpinan perjalanan hari ini mengatakan bahwa kapal tumpangan kami akan melawan ombak dan kami harus bersiap untuk berbasah ria selama perjalanan. Benar saja, Ombak besar siang itu terasa menggoyang seisi kapal. Meski basah kuyup terkena terpaan air laut dan mata terasa pedih, kami masih bisa menikmati keindahan pemandangan laut dan kepulauan disana lengkap dengan burung camar yang beterbangan mencari ikan di laut dan sejenis kupu-kupu aneh yang terbang bebas di laut lepas.[RN, 170406]

Jurnal 22 : Gudang Ilmu di Sumur

May 7th, 2006 by kksmelati

Sambil menyelam, minum air. Sambil berkegiatan sosial meresmikan dua buah perpustakaan desa, lalu berjalan-jalan ke

Taman

Nasional Ujung Kulon. Sungguh pengalaman wisata yang menyenangkan yang dilakukan oleh para relawan KKS Melati di pertengahan bulan April 2006 ini.

***

Day 1 : Pemberangkatan

Akhirnya 18 orang rombongan relawan KKS Melati dan relawan dari rumah singgah SEKAR yang telah berkumpul di Pintu 1 Senayan, berangkat dengan menggunakan bis pinjaman dari Departemen Kesehatan. Kami berangkat menuju Sumur, Kab Pandeglang dan berharap tiba disana sebelum jam 5 pagi keesokan harinya.

Tepat 15 menit menjelang pukul 5 pagi, kami tiba di kompleks AGM, sebuah LSM yang menyediakan tempat untuk kami menginap. Dua buah rumah bergaya alami di area lokasi pembuatan pupuk kompos telah siap digunakan untuk menginap bagi para relawan KKS Melati. 

Bersama AGM, Yayasan Pital, dan Copi e.v. inilah KKS Melati bekerja sama selama satu tahun dalam rangka pendirian dan pengelolaan Perpustakaan di SDN Sumberjaya 1 Desa Sumber Jaya dan SDN Cipining 1  Desa Taman Jaya, yang juga merupakan perpustakaan desa yang pertama di desa Sumber Jaya dan Taman Jaya. Kedua desa tersebut terletak di Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten. AGM, bersama Yayasan Pital, dan Copi e.v. akan menjadi fasilitator dan penghubung akses dan koordinasi dengan pihak sekolah, sementara KKS Melati akan menjadi alat penyedia sarana perpustakaan. Sedangkan buku-buku perpustakaan saat ini baru disediakan oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk sebanyak 1000 buku dan dari para donator lainnya, termasuk sumbangan dari para relawan KKS Melati.

Sesampainya disana, kami berkenalan dengan Pak Edi, pengurus harian AGM, Marie, seorang relawan dari Canada dan Kate, seorang relawan dari UK. Marie dan Kate saat ini sedang menjadi relawan dan bekerja untuk AGM. Mereka bertiga akan bergabung dengan kami selama berkegiatan disana.

Day 2 : Peresmian Perpustakaan di SD Sumber Jaya 1

SD Sumber Jaya 1 letaknya kurang lebih 1 km dari tempat kami menginap. Setelah sarapan pagi, kami berjalan kaki menuju ke lokasi. Setibanya disana, sudah banyak anak-anak kelas 3 yang bermain rebana menyambut kedatangan kami. Hari itu tanggal 14 April 2006 adalah hari libur nasional, karenanya tidak banyak anak-anak yang diminta datang ke sekolah. Hanya mereka yang rumahnya dekat dan hanya kelas 3 saja yang hadir di sekolah. Jumlahnyapun tidak begitu banyak, namun tidak mengurangi keceriaan kami bekerja dan berkegiatan disana.

Perpustakaan SDN Sumber Jaya 1 terletak satu ruangan dengan ruang guru. Ruangannya agak sempit dan buku-buku yang dipajang belum seluruhnya tersedia. “Kami sedang merapihkan ruangan ini,” ujar seorang guru,”buku-buku yang lebih mahal harganya seperti buku ensiklopaedia dan kamus belum kami pajang di rak.”

Walau letak perpustakaan ini berada di SDN Sumber Jaya 1, namun keberadaannya dapat digunakan untuk 2 buah sekolah yang kebetulan berada berdekatan yaitu SDN Sumber Jaya 2.  Perpustakaan ini dapat pula diakses oleh masyarakat sekitar, karena buku pertanian dan memasak yang disediakan di perpustakaan tersebut dapat pula dinikmati oleh para petani dan ibu-ibu rumah tangga, selain buku cerita dan ilmu pengetahuan yang memang disediakan untuk anak-anak.

Seusai acara pembukaan yang dimulai dengan serangkaian sambutan, Dindin, Baron, Roni dan Lendra lantas memimpin workshop kertas daur ulang. Pembuatan kertas daur ulang ini ternyata tidak hanya menarik anak-anak sekolah disana tetapi juga para guru. Banyak sekali pertanyaan yang menandakan antusiasme mereka. Setelah penjelasan tentang proses pembuatan kertas daur ulang dari bahan

baku

batang pisang, anak-anak langsung mempraktekkan sendiri proses pencetakan bubur kertas dan kemudian berlarian untuk menjemurnya di tengah lapangan.

Kegiatan origami dan menggambar dilakukan setelah kegiatan pembuatan kertas daur ulang selesai, karena sedikitnya jumlah anak-anaknya yang hadir. Kegiatan origami dipimpin Alip dan Swan. Bersama-sama mereka mengajarkan kertas origami menjadi bentuk bebek. Kegiatan ini sangat menarik dilakukan dan ada beberapa guru yang ikut belajar bersama-sama di kelas.  Seusai belajar origami, mereka pindah ke kelas lain untuk mengikuti kegiatan menggambar diatas kertas daur ulang, yang kali ini dipimpin Dessy dan Dina. Seusai menggambar, kegiatan ditutup dengan foto bersama murid-murid dengan para guru dan relawan, lalu kami kembali ke penginapan.

Day 3 : Peresmian Perpustakaan di SD Cipining/Tunggal Jaya 1

"Buku adalah gudang ilmu dan buku dapat dicari di perpustakaan", ujar Ayip Sutisna, Camat Sumur pada sambutannya di acara peresmian perpustakaan di desa Tunggal Jaya. Walau letak perpustakaan ini berada di SD Tunggal Jaya 1, namun keberadaannya dapat digunakan untuk 2 buah sekolah yang letaknya berdekatan yaitu SD Tunggal Jaya 1 dan 2.  Selain itu perpustakaan ini dapat pula dijadikan gudang ilmu bagi masyarakat sekitar, karena perpustakaan ini menyediakan buku-buku pertanian, perikanan dan memasak yang dapat dinikmati oleh para petani, nelayan dan ibu-ibu rumah tangga, selain buku cerita dan ilmu pengetahuan yang memang disediakan untuk anak-anak.

Gunawan selaku kepala sekolah Tunggal Jaya 1 menegaskan bahwa Perpustakaan tidak akan berjalan jika lingkungan sekitarnya tidak mendukung untuk berjalannya suatu perpustakaan. Ia menginginkan agar para guru dapat turut membaca dan ikut menyebarkan budaya membaca agar anak-anak tertular dan rajin membaca. Iapun meminta para guru untuk dapat melibatkan penggunaan perpustakaan dalam metode pengajaran  sehari-hari untuk menambah wawasan para siswa. Ayip, mantan kepala sekolah yang saat ini menjabat sebagai Camat, menambahkan bahwa sistem manajemen perpustakaan ini hendaknya diperbaiki sehingga buku-bukunya dapat terawat dan peminjaman buku dapat dikelola dengan baik.

Sejalan dengan pemikiran tersebut, bapak Kepala UPT Dinas Pendidikan Kab Pandeglang dalam sambutannya meminta para guru SD Tunggal Jaya 1 ini untuk dapat memanfaatkan perpustakaan sebaik-baiknya agar berguna bagi lingkungan desa. Jika sebelumnya akses terhadap buku pengetahuan sangat terbatas maka dengan kehadiran perpustakaan ini diharapkan adanya peningkatan pengetahuan para siswa dan juga para guru. Beliau juga menghimbau KKS Melati untuk dapat membuat satu perpustakaan lagi di desa Taman Jaya, yang letaknya sangat dekat dengan Taman Nasional Ujung Kulon, tetapi sangat minim dengan sarana pendidikan seperti perpustakaan.

Sambutan lain diantaranya dari Bapak Pulung S Sang Kepala desa Tunggal Jaya, Bapak ketua komite sekolah SD Tunggal Jaya 1 dan 2, Bapak Edi mewakili pihak AGM dan Fridessy relawan KKS Melati sama-sama menekankan bahwa keberadaan sekolah ini selayaknya juga dapat membantu para murid, guru dan masyarakat untuk bersama-sama mengelola dan memanfaatkan keberadaannya.

Setelah sambutan yang begitu panjang, kegiatan lantas dipecah menjadi beberapa pusat kegiatan. anak-anak kelas 1 berkumpul di ruang perpustakaan untuk mendengarkan dongeng dari Dina, salah seorang relawan KKS Melati, dibantu Meina dan Rini, sedang anak-anak kelas 2 dan 3 mengikuti kegiatan origami, dipandu Arie Bks dan Alip, relawan KKS Melati. Untuk anak-anak kelas 4-6 bergabung dengan relawan dari rumah singgah SEKAR dipimpin Dindin, Baron, Roni dan Lendra belajar tentang pembuatan kertas daur ulang.

Berbeda dengan perpustakaan di SDN Sumber Jaya 1 yang letaknya di ruang guru, Ruang perpustakaan di SDN Tunggal Jaya 1 letaknya disebuah ruangan khusus yang diberi nama “Ruang Perpustakaan”. Ruangan ini semula adalah ruang serbaguna yang digunakan untuk olahraga. Saat ini ruangan yang seluas 7 x 7 m ini terpaksa dibagi dua.  Menempati setengah ruangan, perpustakaan ini masih terlalu sempit. Dengan peralatan yang sudah disediakan oleh KKS Melati, seperti alas untuk duduk, bantal-bantal lantai dan meja pendek untuk membaca, tampaknya ruangan yang sempit ini memang nyaman walaupun terkesan sangat lembab. Kelembaban memang terasa di ruangan ini. Rak-rak buku yang baru saja dibeli 2 bulan yang lalu, sudah ternoda oleh jamur. Kalau tidak sering dibersihkan, rasanya buku-buku disana akan cepat rusak dimakan jamur dan rak bukunya pun tidak akan tahan lama karena terbuat dari partikel board.

Tiga jam berlalu dengan cepat sampai akhirnya kami tiba di penghujung acara, yaitu acara foto bersama di depan ruang perpustakaan.

Ini bukan akhir, tetapi awal sebuah perjalanan panjang bagi penduduk desa untuk dapat memanfaatkan buku sebagai jendela pengetahuan yang tidak berbatas. [RN, 170406]

AYO, KEMPING!

April 17th, 2006 by kksmelati

AYO, KEMPING!

SEBUAH PROGRAM OUTING

ANAK DHUAFA DAN ANAK JALANAN

JUNI 2006

Salah satu program tahunan yang dilakukan oleh KKS Melati adalah Program Outing untuk Anak Jalanan.  Program ini telah dilakukan sejak tahun 2003, berupa kunjungan  anak-anak Sekolah Anak Jalanan (SAJA) ke Kebun Raya Bogor.  Tahun 2004, KKS Melati kembali mengajak anak-anak Sekolah Anak Jalanan (SAJA) ke Taman Mini Indonesia Indah. Tahun 2005 KKS Melati mengajak empat rumah singgah dan belajar anak jalanan ke

Hutan

 

Kali

 

Pesanggrahan

 

dan

 

Museum

Layang-layang.

Tahun ini, Program Outing yang diberi nama “Ayo, Kemping!” akan dilakukan di Wana Wisata Curug CIlember pada tanggal 24-25 Juni 2006.  Program ini akan mengikutsertakan anak-anak dhuafa binaan Bina Peduli Dhuafa di Cipete dan dua buah rumah singgah anak jalanan, yaitu Rumah Singgah Yayasan Balarenik di Cakung, Jakarta Timur dan Rumah Singgah Yayasan Dian Mitra di Jayakarta, Jakarta Pusat, dengan total peserta dan relawan sejumlah 180 orang. 

Kegiatan ini pada intinya bertujuan untuk  mengajak lebih banyak kaum muda Jakarta untuk peduli kepada sesama, disamping juga memfasilitasi kegiatan belajar di luar sekolah agar dapat meningkatkan, pengetahuan, ketrampilan, wawasan, kerja kelompok dan  memberikan pengalaman berbeda  bagi anak-anak seusia kelas 4-6 SD untuk dapat mencintai lingkungannya.

Wana Wisata Cilember, memiliki suasana pegunungan yang sejuk dan segar (suhu 18º - 26ºC), dengan keindahan dan keunikan air terjun yang berjumlah 7 buah.  Di lokasi ini pula terdapat taman kupu-kupu lengkap dengan laboratorium pengembangan kupu-kupu yang juga berfungsi sebagai tempat penelitian dan pembelajaran, yang nantinya juga akan dikunjungi anak-anak.

Sebagai anak dhuafa dan anak jalanan, tidak banyak kesempatan untuk belajar di luar lingkungan mereka. Oleh karenanya, wisata ke lokasi yang berbeda dengan lingkungan dimana mereka berada, sangatlah berguna untuk menambah wawasan dan pengetahuan mereka tentang kekayaan alam. Di lokasi outing ini anak-anak berkesempatan merasakan suasana kemping di kaki pegunungan, dikelilingi oleh pohon pinus dan air terjun. Sejak pagi sampai siang hari akan banyak permainan ketrampilan dan ketangkasan sederhana yang pasti diminati anak-anak, salah satunya adalah Treasure Hunt atau berburu harta karun dan beberapa permainan kerjasama kelompok yang pasti menarik bagi anak-anak. Pada malam hari akan ada api unggun dan performance dari anak-anak dan para relawan. 

Bersamaan dengan Program Outing ini juga dilakukan kegiatan Putar Buku ke-2, dimana setiap rumah singgah akan membawa boks buku, yang tiga bulan sebelumnya telah didrop oleh KKS Melati, untuk ditukar.  Putar buku akan dilakukan di area bermain, sekaligus disediakan pojok membaca lengkap dengan buku cerita dan mainan untuk digunakan selama program outing berlangsung. Telah disiapkan pula berbagai rangkaian program pengujian wawasan dari buku-buku tersebut untuk menarik minat baca anak-anak.

Kegiatan ini tentunya tidak terlepas dari peran serta anda atau perusahaan anda. Mari bersama-sama mendukung kegiatan ini dan memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk berbagi, belajar dan bermain.

Merupakan dukungan yang sangat luar biasa atas keterlibatan anda atau perusahaan anda untuk turut serta membuat kegiatan ini berjalan dengan baik, untuk berbagi cinta dan kebahagiaan untuk sesama. Mari kita saling merangkul dan berjejaringan untuk membangun kemampuan untuk berbagi. [RN]

Pendaftaran relawan dilakukan sampai dengan tanggal 21 April 2006 ke milis ini atau ke kks_melati@yahoo.com.

KKS Melati membutuhkan :

  1. Koordinator relawan (1 orang).  Diperlukan satu orang koordinator relawan yang akan berkoordinasi dengan 20 relawan pendamping di lokasi.  Koordinator relawan akan melakukan pendataan anak-anak per lokasi rumah singgah dan lokasi dhuafa, dan membaginya kedalam 20 kelompok. Berkoordinasi dengan koordinator lokasi untuk pembagian tenda.  Berkoordinasi dengan koordinator transportasi untuk pengaturan penjemputan anak-anak.

  1. Relawan pendamping (20 orang). Setiap relawan bertanggung jawab akan 5 anak yang berada dalam kelompoknya, mulai dari penjemputan anak-anak di rumah singgah masing-masing hingga kembali.  Relawan pendamping akan mendampingi anak-anak pada setiap kegiatan, mulai dari kegiatan jalan-jalan, belajar, sampai menginap, mengantar anak-anak ke toilet dan tidak membiarkan mereka terpisah dari kelompoknya. Relawan pendamping harus mengikuti briefing untuk relawan yang akan disediakan minimal 2 kali sebelum kegiatan berlangsung.

  1. Koordinator Transportasi (1 orang). Diperlukan 1 (satu) orang relawan untuk pengurusan transportasi, mulai dari pencarian transportasi yang murah meriah tapi aman, terknis pengaturan keberangkatan dan kepulangan serta bertanggung jawab selama perjalanan dan pengaturan kembali ke bis. Koordinator transportasi bekerjasama dengan relawan per bis/mobil untuk mendapatkan data anak-anak per bis/mobil (nama), pembagian kelompok dan tenda. Untuk keperluan medis selama perjalanan Koordinator bis dapat mencari dokter sepanjang perjalanan, jika diperlukan atau bekerjasama dengan dokter yang ikut serta pada kegiatan ini.

  1. relawan Lokasi (1 orang). Bertanggung jawab terhadap kegiatan di lokasi, mencari lokasi untuk P3K dan drop konsumsi, kerjasama dengan relawan Artis relation untuk welcoming anak-anak (jika ada) dan bertindak sebagai time keeper kegiatan dan. Koordinator lokasi juga membuat mapping lokasi untuk kemudahan relawan pendamping. Bekerja sama dengan runner untuk pengamanan di lokasi. Bertugas memesan tiket dan mendapatkan diskon untuk tiket masuk  wana wisata dan mengatur rombongan masuk ke wahana. Disamping itu juga bertanggung jawab terhadap pemesanan kapling dan tenda. Standby di depan loket pada saat rombongan masuk. Kerjasama dengan koordinator transportasi untuk mengetahui keberadaan  rombongan. Kerja sama dengan relawan konsumsi untuk pemesanan konsumsi dilokasi. Bekerja sama dengan koordinator relawan untuk pembagian tenda.

  1. Relawan konsumsi (3 orang). Bertanggung jawab terhadap keseluruhan konsumsi selama kegiatan berlangsung.  Melakukan pencarian sumbangan dan donasi untuk konsumsi. Melakukan pemesanan snack, makanan dan membeli minuman yang diperlukan, dan menentukan lokasi untuk makan.  Bekerja sama dengan store manajer fast food terdekat (jika ada) atau rumah makan lainnya untuk teknis makan siang di restoran (jika diperlukan). Bekerja sama dengan time keeper lokasi, untuk menentukan jadual makan rombongan.  Salah satu dari relawan konsumsi adalah koordinator.

  1. Relawan acara (3 orang). Bertanggung jawab terhadap keseluruhan acara di lokasi tersebut. Kerjasama dengan relawan artis dan media relation untuk penggunaan artis di kegiatan. Membuat run down acara dan bekerja sama dengan relawan traffic memastikan penyelengaraan acara berlangsung sesuai dengan jadual.

  1. Relawan dokter (2 orang). Dua relawan dokter untuk kegiatan outing. Preferably relawan dokter yang dapat menginap. Obat-obatan akan disediakan oleh Koordinator acara.

  1. Relawan artis dan media relation (1orang). Mencari dan menghubungi artis yang bisa bergabung di acara ini, mengatur timing untuk memanfaatkan artis di lokasi, handle tiket dan tenda menginap (tbc) dan mendata HP artis ybs.  Membuat press release dan menghubungi pihak media untuk kegiatan promosi kerjasama liputan. Jika tidak ada artis, relawan ini bisa bertindak sebagai runner.

  1. Relawan kesekretariatan (2 orang) : melakukan kerja sebagai fundraiser dan media relation jika diperlukan, melakukan pengiriman proposal dan follow up kepada calon donatur dan mengirimkan pelaporan seusai kegiatan. Memesan ucapan terima kasih untuk para donatur dan dokter. Dapat bertugas sebagai runner pada saat kegiatan berlangsung.

  1. Relawan keuangan (1 orang). Bertanggung jawab terhadap pengelolaan dana untuk kegiatan ini, mencakup pembuatan budget kegiatan, pengaturan keuangan per bagian, kerjasama dengan relawan lokasi, relawan konsumsi, koordinator transportasi, untuk segala hal yang berhubungan dengan pembayaran, kerjasama dengan relawan kesekretariatan, khususnya untuk kegiatan fundraising (jika diperlukan, misalnya jualan gimmick, bazaar, atau lainnya). Bertanggung jawab terhadap laporan keuangan yang akan disampaikan pada akhir kegiatan.

  1. Relawan traffic (1 orang). Bekerja sama dengan Project Officer, Bertanggung jawab untuk mengatur keseluruhan traffic kegiatan dan memastikan kegiatan berjalan sesuai dengan rencana kerja yang sudah disepakati. Bekerja sama dengan runner untuk pengamanan di lokasi.

  1. Relawan dokumentasi (1 orang) : bertanggung jawab terhadap keseluruhan dokumentasi kegiatan (foto dan video), penggandaan untuk keperluan arsip dan donatur.  Merangkap pekerjaan sebagai runner.

  1. Koordinator perlengkapan (1 orang) : bertanggung jawab terhadap penyediaan seluruh perlengkapan yang diperlukan, termasuk mengikuti  kegiatan packing. Bekerjasama dengan relawan lokasi, relawan konsumsi, untuk mendata kebutuhan peralatan yang diperlukan di lokasi.

  1. Runner (5 orang) :  bekerja sama dengan koordinator lokasi dan perlengkapan untuk menyiapkan lokasi dan keamanannya. Melakukan pengamanan jalur dan membantu anak-anak yang mengalami kesulitan pada saat trekking dilakukan. Menjadi anggota tim P3K yang akan bekerjasama dengan para dokter.

***

Bagi anda yang merasa tertarik untuk ikut serta sebagai relawan, dipersilahkan mengisi salah satu posisi pekerjaan diatas paling lambat hari JUMAT 21 APRIL 2006. Biaya relawan untuk kegiatan ini sebagai pengganti 4 kali makan, 2 kali snack dan biaya menginap, sebesar Rp. 50,000 paling lambat tanggal 15 Juni 2006.

Meeting koordinasi akan diberitahukan segera setelah beberapa lowongan kunci sudah terisi.

Total relawan yang diperlukan (sementara) : 41 relawan Melati, 2 dokter. Jika ternyata akan dibutuhkan relawan lainnya akan diberitahukan kemudian dan dibuka lowongan kebutuhannya.

Silahkan mendaftar ke kks_melati@yahoo.com

WORLD BOOK DAY

March 3rd, 2006 by kksmelati

WORLD BOOK DAY

PERPUS DIKNAS

2-5 MARET 2006

Day One.

Aku datang tepat jam 10 pagi dan di Panggung Utama sedang ada seremonial pembukaan kegiatan World Book Day (WBD) yang tahun ini dikelola oleh Forum Indonesia Membaca. Tahun ini adalah tahun pertama Indonesia merayakan WBD dan memang sudah seharusnya kegiatan ini disambut dengan gegap gempita. Seharusnya bahkan diseluruh pelosok Indonesia juga merayakannya dengan caranya masing-masing. 

Di Jakarta sendiri yang aku tahu, WBD diperingati sendiri-sendiri oleh para penerbit buku. Grassindo berpameran di Bentara Budaya Jakarta dengan tawaran diskon sampai 80%. Ada banyak sekali buku-buku idamanku yang dijual hanya seharga Rp. 1,000. Hari minggu tanggal 5 Maret 2006 nanti, di Istora Senayan juga ada pameran buku, mungkin diskonnya hanya 10-15%. Di toko-toko buku juga tidak kalah menariknya. Di Toko Buku Gunung Agung menawarkan buku-buku tertentu dengan diskon sampai 50%. Di Perpustakaan Diknas sendiri, mulai tanggal 2-5 Maret 2006 ini juga menggelar pameran buku dengan dikson sampai 70%.

Begitu banyak buku murah di Jakarta, tapi mungkin tidak semua kota besar di Indonesia punya kesempatan yang sama. 

Sambil geleng-geleng kepala melihat banyaknya buku yang sedang didiskon dan begitu banyak orang-orang di luar Jakarta yang tidak punya kesempatan untuk datang ke Jakarta, tetapi justru di Jakarta sendiri tidak banyak orang yang datang berkunjung hari itu, aku kembali lagi ke stand KKS Melati. “Mungkin karena pameran dibuka pada hari Kamis, jam kerja pula”, pikirku. 

Empat hari ini, seperti rencana, KKS Melati membuka standnya disana. Ada 10 foto kegiatan yang kami pamerkan. Beberapa diantaranya adalah foto-foto hasil karya Mbak Liz dan Didi. Banyak pengunjung yang memuji foto-foto hasil karya mereka dan berdoa semoga KKS Melati dapat terus menjalankan kegiatannya. 

Tidak berapa lama banyak sekali karyawan Diknas yang melihat-lihat pameran. Ada seorang bapak yang kelihatan tertarik dengan KKS Melati, semua foto-foto dilihat-lihat, semua barang dipegang-pegang dan akhirnya ia berkomentar, katanya ”Kenapa ikutan pameran?” Aku menjelaskan beberapa kegiatan yang berkaitan dengan buku dan mengapa kami berpameran disana. Tentunya selain untuk mendapatkan eksposur atas kerja yang sudah dilakukan, pameran ini lebih kepada upaya untuk merangsang komunitas lain untuk terus melakukan apa yang sudah mereka mulai dan tidak lupa juga sebagai upaya untuk menggalang bantuan dan jaringan untuk meneruskan kerja yang sudah kami mulai selama ini.

”Dananya dari mana, ya?” Tanya Bapak itu lagi. GUBRAXXX….  Selama ini banyak orang berpikiran bahwa untuk melakukan sebuah kegiatan sosial, selalu diperlukan dana yang tidak sedikit. Parahnya ada yang berpikiran bahwa jika tidak punya cukup dana, janganlah melakukan sebuah kegiatan. Persepsi yang disampaikan oleh bapak tersebut boleh jadi adalah pikiran kebanyakan orang saat ini. Tetapi alhamdulillah sudah hampir 4 tahun ini, kegiatan KKS Melati dilakukan karena ada relawan yang ingin melakukan sesuatu. Soal dana, insya alloh akan ada jalan dan rejekinya sendiri-sendiri. Tetapi seperti yang sering dikatakan Dessy, salah seorang relawan KKS Melati : ”jika kita punya keinginan yang kuat untuk membuat kegiatan itu, maka bahkan seluruh dunia akan berkonspirasi untuk membantu kita mewujudkannya”. Dan begitulah kira-kira kata-kata yang seringkali didengar pada saat ada pertemuan relawan KKS Melati dan begitulah memang seharusnya sebuah kegiatan itu dibuat.

Aku percaya bukan hanya KKS Melati yang menerapkan prinsip seperti itu, tetapi nyaris seluruh komunitas yang ada di pameran WBD hari itu juga melakukan hal yang sama. Rumah Pelangi salah satu contohnya. Gunawan, Desi, Bahar, Iwan, dan Purnomo, datang dari Desa Kadirojo - Muntilan dan benar-benar datang dengan biaya yang sangat terbatas. Apa yang mereka lakukan sehingga sampai ke Jakarta itulah yang menarikku untuk ngobrol dengan mereka hari itu.  Iwan datang membawa 3 patung batu buatannya sendiri. Untuk bisa pergi ke Jakarta, ia kerja siang malam membuat patung batu dan menawarkannya kesana-sini. Jika Iwan bisa sampai ke Jakarta, itu adalah prestasinya tersendiri. Purnomo, seorang remaja usia 19 tahunan lulusan SMP dan tinggal di Dusun Kadirojo, awalnya ia mempunyai pekerjaan sebagai penjual pasir Merapi dengan cara menjadi kernet angkutan pasir dan menawarkan/menerima pesanan pasir. Ketika ada agenda WBD, ia termasuk yang pertama mengacungkan jari untuk ikut ke Jakarta. Namun apa daya, karena tidak punya uang saku cukup, ia rutin nongkrong di pojok desa untuk menawarkan jasa ojek. Iapun sampai di Jakarta. 

Di Pameran itu aku juga bertemu dengan seorang ibu-ibu pengunjung pameran. Datang bersama ibu-ibu lainnya, ia tampak semangat melihat-lihat isi stand KKS Melati. Tiba-tiba pandangannya jatuh ke pouch-pouch HP yang didisplay disana.

Wah, ini apa?”

”Tempat Pouch, Bu”

”Berapa harganya?”

”Cuma sepuluh ribu”

”Wah kok mahal ya?” katanya sambil mengeluarkan Hpnya dan mencoba pouchnya itu.”Lima ribu ya? Saya beli dua!”

”Belum bisa, Bu” 

Dalam hati aku sedih juga. Pouch yang hanya sepuluh ribu ternyata masih juga ditawar. Tidakkah ibu itu menghargai bahwa ini adalah sebuah usaha dari sebuah kelompok kerja relawan yang ingin mengumpulkan dana untuk kegiatan sosial yang ingin mereka lakukan? Memang tidak banyak orang yang bisa melihat itu. Mungkin juga mereka tidak bisa melihat bagaimana begitu banyak komunitas bisa berada di pameran itu. Bahkan sempat aku dengar ada saja yang mengomentari bahwa kemungkinan panitia mendapatkan untung dari kegiatan ini. Bagaimana bisa untung, sedangkan kami yang berpameran disanapun tidak dipungut biaya apa-apa, padahal biaya sewa ruangan yang dilakukan oleh Panitia adalah sebesar Rp. 10 juta, belum lagi AC yang tidak dingin itu memakan biaya Rp. 7 juta. 

Tapi sedihku tidak berlangsung lama. Selama menjaga pameran ini, ada banyak hal yang menarik dan tidak terlupakan. Seorang anak kecil berambut keriting sibuk berlarian dari satu stand ke stand yang lain. Setiap kali melewati gambar kaki yang ditempel di lantai semalam, ia selalu berhenti untuk mengukur kaki dan loncat-loncat mengikuti dimana gambar tempel berbentuk kaki itu kami pasang. Lucu dan cukup menghibur para penjaga stand disekitar kami. Apalagi desain kupu-kupu buatan Coy dan Prima, relawan KKS Melati, hari itu dikunjungi kupu-kupu sungguhan. Kupu-kupu itu hinggap dan menemaniku hingga sore hari. Aden, seorang relawan dari KKS Pelita Hati yang kebetulan mampir di standku, berujar ”wah ada kupu-kupu, tandanya stand ini beruntung. Insya alloh siapa tahu nanti ada sumbangan apa, gitu”. Hmmm semoga saja benar. 

Bicara tentang Aden, ia adalah salah seorang sahabat lama. Kami dulu adalah relawan di Kebun Binatang Ragunan. Aden kini giat mengembangkan minat baca dan tulis dengan menjadi relawan di KKS Pelita Hati. Disela-sela kami berbagi informasi tentang kegiatan komunitas kami, Aden berkata, ”Tadi ada orang mampir di stand gua. Lucunya dia tanya gini : apa bedanya KKS Pelita Hati dan KKS Melati? Gua bilang ajah gini : gak ada bedanya tuh, emang ada masalah?” 

Dari pengalaman bergaul dengan banyak komunitas, ada banyak friksi-friksi diantara komunitas tersebut. Ada pula anggapan bahwa dalam melakukan kerja-kerja diharapkan tidak berbenturan kepentingan. Berbeda dengan diskusiku dengan Aden, kami tidak pernah menganggap bahwa pekerjaan yang kami lakukan ini istimewa. Sama sekali tidak. Bahkan apapun yang kami lakukan ini boleh saja ditiru oleh komunitas lain. Jika mereka sudah melakukan yang sama, toh bangsa kita juga yang menikmati hasilnya. Lalu mengapa harus berselisih paham karena pekerjaan yang dilakukan adalah sama? 

Aden juga menawarkan buku-buku koleksi KKS Pelita Hati untuk dapat digunakan juga di KKS Melati. Kebetulan kami punya program yang sama, yaitu program Putar Buku. Tapi berbeda dengan KKS Pelita Hati dengan program Warung Bacaan Anak (WACANA) yang sudah merambah sampai ke Aceh, Maluku, Ambon dan kota lain selain Jakarta, bahkan tahun 2006 ini sedang membuat program WACANAnya di Papua, KKS Melati justru baru memulainya. Mungkin tidak besar, tapi kami melakukannya. Jadi apa salahnya jika kami bergandengan tangan? 

Siang menjelang sore, ada kunjungan dari seorang anak yang tuna netra. Usianya kira-kira 18 tahun. Ia dibimbing ibunya berjalan dari satu stand ke stand lainnya. Sang ibu sibuk menerangkan masing-masing stand kepadanya. Diajaknya ia menyentuh benda-benda yang ada disekeliling stand itu. Di Stand KKS Melati ia menyentuh layang-layang buatan anak-anak dan aku memberinya sebuah burung kertas origami hasil karya anak-anak di Melati Taman Baca. Aku tersentuh dengan cara sang ibu mengenalkan dunia ini kepada anak perempuannya, walaupun ia tuna netra. Sayang sekali stand KKS Melati tidak didesain untuk mereka yang tuna netra.

Isyu ini sebenarnya sudah lama disampaikan oleh Mitra Netra, sebuah yayasan yang standnya juga tidak jauh dari KKS Melati. Mitra Netra saat ini sedang membuat program 1000 buku untuk tuna netra. Dalam kunjunganku di stand Mitra Netra ini, Mbak Indah salah satu pengelola yayasan mengenalkan aku dengan program converting dari MS-Word ke program (aku lupa namanya) yang bisa mengkonversi program word menjadi tulisan braille, lalu kemudian di cetak dengan printer braille. Mbak Indah menjelaskan bahwa program converter itu dibuat bersama oleh Mitra Netra dan Binus. Indah sekali dunia ini karena jika banyak sekali relawan melakukan pengetikan buku cerita dalam MS-Word lalu dikirimkan ke Mitra Netra, maka akan ada banyak sekali buku-buku untuk teman-teman yang tuna netra. Sesederhana itu. Mbak Indah juga menawarkan KKS Melati untuk berkunjung ke Mitra Netra untuk melihat sendiri bagaimana para relawan bekerja merekam suara mereka dalam bentuk kaset yang nantinya akan menjadi buku suara. Luar biasa. 

Di sore hari, aku mendaftarkan KKS Melati untuk mengikuti program Buku Untuk Semua. Menurut informasi dari panitia, KKS Melati bisa mendapatkan buku-buku hasil pengumpulan buku teman-teman BiNus yang sudah memecahkan rekor MURI minggu lalu. Selain itu aku juga mendaftarkan KKS Melati menjadi Taman Bacaan Anggota Rolling CFTB Forum Indonesia Membaca. Mudah-mudahan dengan cara begini, buku-buku koleksi acara Putar Buku KKS Melati bisa bertambah banyak dan lebih banyak buku bisa dinikmati mereka yang membutuhkannya. [RN, 030306]

Rumah Pelangi : http://rumahpelangi.blogspot.com

Indonesia Membaca : www.indonesiamembaca.org

Mitra Netra : www.mitranetra.net

KKS Melati : www.kks-melati.org à siapa mau bantu wiko update web melati? J

LAPORAN KKS MELATI ke LAPAS TANGERANG

February 12th, 2006 by kksmelati

LAPORAN KEGIATAN KKS MELATI

LAPAS ANAK LAKI-LAKI, TANGERANG

11 FEBRUARY 2006

Hari Sabtu, 11 Februari 2006 lalu, KKS Melati berkunjung ke Lembaga Pemasyarakatan untuk anak laki-laki di Tangerang untuk berdiskusi dengan anak-anak disana. Tema diskusi kali ini adalah "JIKA KELUAR DARI PENJARA & MASYARAKAT MENOLAK KAMU, MAKA PEMIKIRAN DAN TINDAKAN POSITIF YANG BAGAIMANA YANG AKAN KAMU LAKUKAN?"

Salah satu nara sumber disana adalah Bagol, seorang mantan napi dari Lapas itu bebas tahun lalu dan sekarang ini bekerja sebagai relawan di Sahabat Andiek yg merupakan sebuah LSM dgn program kerja & kreatifitas untuk mantan & narapidana yg masih berada di Lapas.

Saya belajar sesuatu yg sangat berharga dari ucapan seorang Bagol yang ditujukan untuk teman2nya yg masih berada di Lapas.

"Mbak Dessy, saya tidak setuju dengan kata PENJARA" thanks Bagol, hal itu saya pahami karena lapas adalah sebuah lembaga pembinaan mental untuk mereka.

"Untuk teman2 semua yg masih di Lapas saya informasikan bahwa ketika kamu berada diluar sana pecayalah tidak semua orang perduli siapa & apa latar belakang kita. Terkadang sering kita cuma berfikir dan jadi takut sendiri. Cap yg kita punya karena pernah di Lapas adalah suatu yg tidak bisa dihindari. Kalaupun misalnya ada satu RT yg menolak
maka kamu harus tahu bahwa ada ribuan Kelurahan yg bisa kamu pergi dan terus melakukan hal terbaik yg kamu punya untuk diri kamu dan orang lain"

Respond dari anak2 Lapas juga sangat positif, mereka berkata bahwa ketika keluar mereka akan melakukan hal terbaik yg bisa mereka lakukan untuk hidup dan tidak ingin kembali ke Lapas. Kalau ditolak ada banyak tempat yg mereka bisa pergi menjadi seorang yg bisa diterima.

Saya belajar… menjadi orang yg ditolak terkadang berasal dari pikiran kita sendiri, juga bisa berasal dari penolakan satu orang maka berfikir bahwa semua orang menolak kita sehingga sering menyebabkan kita menjadi seorang yg bitter dan berprasangka dgn cara pandang yg sama untuk semua orang.

Hal ini juga penyebab dari peperangan & perkelahian serta kebencian yg ditujukan untuk sekelompok orang atau suatu bangsa atau suatu ajaran agama yg berbeda. Karena ada satu orang yg berbuat hal yg tidak kita sukai kepada diri kita maka kitapun mengeneralisasi bahwa semua orang dgn latar belakang yg sama adalah sama persis.

Terima kasih untuk semua teman2 yg mendukung kegiatan hari Sabtu lalu atas pelajaran berhaga yg saya terima.

Let’s make a better place
Dessy

Lebaran bagi Penghuni Lapas Anak Tangerang

November 27th, 2005 by kksmelati

Sabtu pagi, 3 Syawal 1426 H, alias hari ketiga lebaran, puluhan relawan Kelompok Kerja Sosial (KKS) Melati menyambangi Lembaga Pemasyarakatan Anak Negara atau biasa dikenal dengan Lapas Anak di Tangerang. Sebelumnya, sudah diberitahukan kepada para relawan untuk berkenan membawa makanan kecil atau kue lebaran untuk para penghuni Lapas. Bagi para relawan Melati, kunjungan ini tak sekadar menjadi kunjungan kesekian kalinya, tetapi juga menjadi kunjungan yang paling mengharukan. Setidaknya itu yang saya rasakan.

Hadi dan Bayu, dua anak SMP yang ikut serta dalam rombongan relawan KKS Melati, kali pertama mengikuti kegiatan sosial, membayangkan suasana ‘penjara’ anak-anak itu teramat menyeramkan. Awalnya, mereka mengira akan bertemu wajah-wajah sangar dan sikap brutal para
penghuni. Ternyata, setelah lima belas menit di dalam dan berbincang langsung dengan mereka, keduanya bisa tersenyum. "Tak seperti bayangansaya, ternyata mereka ramah dan bersahabat," ujar Hadi.

Ya, bukan hanya karena hari itu masih dalam suasana lebaran hingga mereka begitu ramah. Bahkan pada kunjungan kami sebelumnya pun, mereka memang ramah dan sangat bersahabat. Sikap yang mereka tunjukkan, seolah menghilangkan kesan brutal fisik sebagian mereka yang terlihat ‘berbeda’ dari anak-anak biasa. Tatto, dan codet di wajah, menjadi hiasan seragam anak-anak penghuni Lapas yang rat-rata berusia di bawah 18 tahun.

Bagaimana lebaran mereka di Lapas? sebahagia kita kah? Silahkan menilainya dari beberapa yang mampu saya rekam.

Gobel Gonzales, begitu teman-temannya memanggil, menganggap, lebaran kali ini tak begitu menyedihkan, walau tak satu pun orang tua dan keluarga lainnya yang mengunjunginya di hari raya ini. "Ini lebaran ketiga saya tanpa mereka, jadi sekarang sudah biasa. Yang sedih justru
di lebaran tiga tahun yang lalu, itu lebaran pertama saya tanpa kunjungan mereka".

Gobel pantas bersedih, dia dan lebih 300 temannya harus bermalam takbiran di dalam lingkungan Lapas. Tak ada baju baru kiriman, tak ada kue lebaran, dan yang pasti, tak ada tangan yang sangat ia rindui untuk dikecup. "Saya kangen ibu, saya ingin ibu tahu betapa menyesalnya saya".

"Tapi saya cukup senang berada di tempat ini. Kalau di luar, belum tentu saya berpuasa, belum tentu saya rajin tarawih, belum tentu saja rajin sholat wajib. Jadi, lebaran tahun ini, terasa sekali bahwa ini bulan kemenangan bagi saya, karena saya mampu berpuasa full, tarawih dan baca quran setiap hari pun tak tinggal," tambah Gobel tak bermaksud menyindir orang-orang di luar Lapas.

Agus, saya kira dia yang terlihat paling senang hari itu. "Besok saya sudah bebas." Tapi tetap saja lebaran kali ini terasa menyedihkan baginya. "Waktu malam takbiran saya menangis, saya teringat malam takbiran bersama orang tua dan adik-adik," ujar anak remaja yang masuk ke Lapas lantaran kasus narkoba itu. Sementara remaja berpeci di
sebelahnya tak sebahagia Agus. "Bahkan lebaran tahun depan pun saya masih di sini," sedihnya.

Taufik, remaja berkulit putih bersih dan jauh dari tampang seram itu mengaku bersemangat di hari raya ini. "Hari bebas saya masih empat bulan lagi, tapi saya berpikir, tak akan pernah lagi berlebaran di tempat ini tahun depan. Cukup dua lebaran saja". Ia tertangkap basah membawa sejumlah ganja dan obat terlarang lainnya di bilangan Senen,Jakarta Pusat. "Saya tidak mau kejeblos ke lubang yang sama dua kali," sambil menyebut beberapa teman se Lapas yang berulang kali ke luar masuk karena kasus yang sama.

Semakin lama berbincang dengan remaja-remaja itu membuat saya semakin haru. Dan, nyatanya, air mata ini tak mampu terbendung saat menangkap sosok anak paling kecil di antara ratusan yang ada. Rizki namanya, usianya baru 9 tahun, asal Serang, Banten. 9 tahun? saya membayangkan
betapa anak seusia itu masih senang bermanja bersama ibunya, masih ingin banyak bermain. "Ibu nggak datang, mungkin ibu malu punya anak seperti saya," akunya sedih. Entah siapa sebenarnya yang harus menanggung malu, Rizki atau orang tuanya lantaran pencabulan terhadap anak tetangga yang dilakukan bocah 9 tahun itu. Bukankah anak seusia itu seharusnya masih dalam pengawasan ketat orang tuanya?

Kue lebaran yang kami bawa, juga berbagi kebahagiaan lebaran yang kami lakukan hari itu, mungkin tak banyak membersitkan senyum di hati mereka. Tapi, kami yakinkan kepada mereka satu hal, bahwa mereka layak mendapatkan sahabat. Dan kami lah sahabat mereka.

Bayu Gawtama
dedicated to KKS Melati

other writing by Bayu Gawtama could be seen at http://gawtama.blogspot.com or http://gawtama.multiply.com/

BKBR Plus

November 27th, 2005 by kksmelati
BKBR Plus -Penyuluhan Kesehatan untuk Ibu-Ibu yang tinggal di seputar Beskem dan Buka Puasa Bersama Melati Taman Baca - 23 Oktober 2005
by Virgina, Relawan KKS Melati
Penyuluhan kesehatan
Acara ini diadakan sebagai acara alternatif pilihan untuk relawan yang tidak dapat ikut serta pada acara BKBR di HRC, Zoom maupun acara sahur bersama. Dengan demikian acara di beskem tersebut tidak pula membatasi jumlah relawan yang akan hadir.
Acara diawali dengan Penyuluhan Kesehatan di Mushola Misbahul Fallah, dihadiri oleh kurang lebih 100 ibu-ibu yang tinggal di seputaran beskem KKS Melati- Ampera. Acara yang rencananya dimulai pada pukul 13.00 terpaksa harus terlambat sekitar 1 jam karena harus menunggu dokter penyuluh yang terjebak dalam kemacetan.
Akhirnya sebelum acara dimulai, dan dengan keterbatasan jumlah relawan yang datang diawal-awal acara, penyuluhan diisi dengan berbincang-bincang seputar keberadaan kks melati di lingkungan mereka. Banyak tanggapan positif yang didapat dari ibu-ibu yang hadir. Anak-anak mereka lebih kreatif, berani dan lebih pintar, adalah beberapa tanggapan yang didapat. Selain tanggapan ada sebagian dari ibu-ibu berharap melati juga dapat memberikan pelajaran membaca dan menulis bagi anak-anak mereka yang usia TK.
Hampir pukul dua siang, Dr. Tatok akhirnya datang untuk mengadakan penyuluhan. Penyuluhan diawali dengan pembahasan mengenai Flu Burung, wabah penyakit yang disebabkan oleh unggas yang telah memakan korban. Ibu-ibu tampak antusias untuk mendengarkan dan mengetahui bagaimana cara mengantisipasi penyakit tersebut. Tak kalah menariknya ibu-ibu juga sangat antusias ketika mendengarkan penyuluhan kesehatan kedua mengenai Demam Berdarah, wabah penyakit yang selalu datang rutin setiap tahun dan memakan korban.
Hujan lebat tak juga menurunkan semangat ibu-ibu untuk mendapatkan informasi mengenai kesehatan. Usai penyuluhan beberapa ibu-ibu bahkan menghampiri dr Tatok untuk menanyakan berbagai keluhan mengenai kesehatan yang mereka alami.
Acara ini dihadiri oleh ketua posyandu, ibu Pan Subarno, Bapak ketua RT 0005 - Bapak Sholatun, KKS Melati - Ibu Rini, dan Pak Brata dari Nestle. Usai acara ibu-ibu mendapat bingkisan dari KKS Melati berupa pepsodent, domestos, shampo clear, surf dari PT Unilever Indonesia, Nestle Biskuit Bayi dari PT Nestle Indonesia dan 2 majalah masakan untuk lebaran dari Femina Group.
Buka Puasa Bersama di MTB
Hujan lebat usai acara penyuluhan tak menyurutkan keinginan anak-anak dan relawan untuk hadir berbuka puasa bersama di Beskem Melati. Tepat pukul 4 sore, hujan berhenti, beberapa relawan menyiapkan ruangan untuk tempat berbuka, bagi tamu, relawan dan anak-anak.
Anak-anak terlihat manis-manis dengan baju muslim yang mereka kenakan. Beberapa terlihat kebesaran. Diawali dengan lagu-lagu, bercerita dan permainan yang dipandu oleh Arie-Bekasi, acara sangat meriah. Bagi anak yang berani tampil atau yang mampu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Arie, mendapat hadiah-hadiah persembahan dari Adith Peduli.
Sebelum berbuka, Arif sang penyanyi juga sempat menyanyikan lagu Tombo Ati dan Astagfirulloh. Semua dibuat terpana, mereka ikut menyimak dan bernyanyi. Usai mendengarkan Arif bernyanyi, acara dilanjutkan dengan mendengarkan ceramah dari seorang guru ngaji, Bang Dani, namanya. Beberapa pelajaran berharga mengenai ramadhan diceritakan oleh Bang Dani.
Beduk pun tiba, acara berbuka di mulaii, anak-anak tak sabar untuk menyeruput minuman buah dari Rully, relawan melati, tak lupa roti unyil dari Nandha. Mereka tak langsung makan berat, setelah membatalkan puasa dengan diiringi oleh relawan melati, Ningsih dan Gatot dan beberapa lainnya anak-anak diajak ke Mushola untuk sholat magrib bersama.
Relawan-relawan yang datang sendiri pun tak kalah serunya, Ada sekitar 25 relawan yang hadir pada hari itu, walaupun banyak yang tidak bisa hadir karena hujan. Diawali dengan minum Teh pakistan buatan aa’ Wiko terasa segar sesuai dengan cuaca yang habis hujan. Dan tak ketinggalan Kolak manis buatan Mertua aa Wiko, nan pisang bawaan Dessi, dan masih banyak lagi makanan lainnya.
Usai sholat Magrib bersama, anak-anak kembali datang ke beskem Melati. Acara hanya diisi dengan ramah tamah. Tak berapa lama kemudian anak-anak dipersilahkan untuk pulang. Sambil pulang mereka membawa bingkisan dari KKS Melati berupa kaos dari Harry Metalizer, buku cerita Garfield dari Femina Group, Jelly, Pepsi cola, roti dari Amanah dan nasi kotak KFC.
Penuh hikmah… bahkan ketika marwan, seorang anak yang mengalami keterbelakangan metal - menerima bingkisan yang kuberikan didepan beskem terlihat bahagia menerimanya. Aku tak bisa mendengar jelas perkataannya, hanya "Hah hih hya" sambil tersenyum lebar dan tak ketinggalan iler yang menetes… tapi kutahu dia mengucapkan terima kasih. selamat berbuka[v]

BKBR dengan anak dhuafa

November 27th, 2005 by kksmelati

Catatan Perjalanan Bina Peduli Duafa,

BKBR dengan anak dhuafa di Zoom Resto and Lounge, 20 Oktober 2005

By Dini Auliya, relawan Bina Peduli Dhuafa

Semangat 45 !! itu kesan yang tertangkap ketika kami kabari adik-adik akan diajak buka puasa bersama di Zoom Resto and Lounge dengan kakak-kakak dari KKS  Melati, sambil latihan nasyid, puisi dan juga berkumpul di mushola baiturahman, tempat base camp dan KBM bina peduli dhuafa, adik-adik semangat membahas dan mendengarkan pengarahan dari kakak-kakak agar nantinya pas hari H bisa tertib.

‘ Zoom Resto and Lounge itu dimana kak, jauh ngga ?’

‘ Di wisma Nusantara, lt. 28, kalo ngga macet 40 menit juga sampe’

‘ dalemnya kayak apa kak ?’

‘ kalau ke Wisma Nusantara kakak pernah kesana, tapi ke Zoom Resto and Lounge  kakak gak pernah masuk..’

‘wah kakak gak gaul….’

Lho… ? hehe….emang… :)

‘ Tapi kak, kalau naik lift ke lantai 28 pasti pusing …aduh gimana dong ?’

          Itulah sedikit pembicaraan dengan adik-adik, setelah itu Kak Meity dan kak Manggi dateng untuk membicarakan acara di Zoom, mereka langsung menyerbu untuk cium tangan.

Pas hari H 9 mobil XL menjemput ke cipete,  adik-adik tambah semangat, sampai di zoom Café ,disambut hangat dan ramah oleh melatiers, pihak Zoom Resto and Lounge, sponsor, dll.  adik adik lupa deh tuh yang namanya pusing naik lift ke lantai 28. semua nya ceria, bahagia, sepanjang acara, berbincang dan dihibur oleh Hedy Yunus, tausyiah dr Aa Reza, nyanyi merah putih bareng-bareng jd backing vocalnya kak Kikan coklat…hehe, bahkan naik panggung bareng2 kak Sandy nyanyiin tombo ati nya Opick,  menjelang akhir acara tumpukan hadiah dari berbagai sponsor untuk adik-adik dibagikan, banyak sekali…bahkan adik-adik SD yang tidak ikut karena acara ini khusus untuk adik-adik yg SMP dan SMU, KKS melati memberikan banyak hadiah khusus untuk adik-adik SD…..Alhamdulillah…..terimakasih melatiers….   

Ah….senengnya melihat mereka bahagia….sampai pulang pun, diperjalanan menuju cipete, mereka masih terus membicarakan acara tadi sambil heboh  membuka-buka hadiah….

‘kakak –kakak itu baik baik ya….kita diperhatiin banget..’

‘ yang ini mau saya kasih ke ibu kak, kerudungnya bagus, pasti ibu seneng..’

‘ yang ini buat adik…’

‘yang ini mau saya pakai untuk lebaran…tasnya mau dipakai untuk sekolah…’

‘ semuanya baik-baik ya kak, mau ngajak kita ngobrol dan ramah-ramah.. ‘

itulah sebagian komentar adik-adik….dan kami yakin semua adik-adik merasakan hal yang sama.

Ada doa disetiap sudut hati adik-adik…

Untuk KKS Melati yang selalu berempati…berbagi…

Terimakasih melatiers….

Semoga amal ibadah dan kebaikan kakak-kakak semua mendapat pahala dari Allah SWT

Dan juga tolong sampaikan terimakasih kami dan adik-adik untuk :

Zoom Resto and Lounge, XL, Unilever, Sandika Entertainment, Java Musikindo, dll

Mohon maaf juga kalau dr kami yang membimbing banyak kekurangan2, …atau ada kekurangan dr sisi lainnya……semoga KKS melati tidak bosan ya untuk terus bekerjasama dengan kami di acara-acara selanjutnya….:)

Alhamdulillah wa syukurillah…

Bersyukur padaMU ya Allah

Kau jadikan kami saudara…

Indah dalam kebersamaan…

Hilanglah sebuah perbedaan……

(dini, 201005)